Showing posts with label Fluff (little). Show all posts

NOTHING LIKE US

  No comments
11:34:00

Author : Yeonhwa
Cast : Min Yoongi (Suga BTS), Jung Hana (OC)
Genre : Marriage life, Fluff (little)
Rated : G
Lenght : Ficlet
Disclaimare : Suga and other BTS member belongs to God, but storyline and OC belongs to me.
I hate plagiarism so don’t copy paste!
Happy reading ^^
.
.
.
Hampir satu bulan semenjak musibah itu, satu bulan sudah aku tak lagi bersama dia. Eomma merindukanmu sayang. Ku tatap langit yang telah memekat malam ini. Hitam dan gelap, tak ada yang bisa ku lihat di sana kecuali tiga bintang yang berkelipan di sana. Ya, tiga, aku sempat menghitungnya tadi.
“Hana-ya, sedang apa malam-malam begini?” Yoongi menyelimutiku dari belakang.
“Aku hanya ingin menghirup udara segar,” jawabku.
“Apa ada yang kau pikirkan hm?” dia melingkarkan tangannya ke pinggangku, lalu meletakkan dagunya di pundakku.
“Aku merindukannya, ha~” ucapku diikuti hembusan nafasku yang berat.
“Dia sudah bahagia di sana, dan aku rasa jika dia tahu kalau eomma-nya terus bersedih dia juga akan ikut sedih.” Jelasnya.
“...” aku hanya bisa terdiam. Sebagai seorang ibu yang baru saja kehilangan calon anaknya, aku rasa wajar jika aku merindukannya.
“Hei!” Yoongi membalikkan tubuhku agar menghadapnya, matanya menulusuri setiap lekuk wajahku, begitu pula aku yang dengan serius menatap matanya, mata sipit yang selalu terlihat tulus itu. Tangannya terulur mengusap wajahku, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahku lalu menyelipkannya ke belakang telingaku. Ibu jarinya mengusap pipiku dengan lembut, seolah memberikan kehangatan tersendiri bagiku yang terlihat kedinginan ini.
Aku tak bisa berkata apa-apa, hanya mampu menatapnya di balik cahaya lampu teras rumah yang sedikit meredup. Semakin aku menatapnya, semakin aku merasa bersalah karena kejadian itu. sekuat mungkin ku tahan agar mataku tak mengalirkan sungai bening di pipiku.
“Kau tahu Hana-ya,” dia memulai perkatannya dengan nada yang lirih, hingga terdengar seperti bisikkan bagiku, aku mengedipkan mataku, bermaksud untuk memfokuskan diriku padanya. Tangannya terulur mengenggam tanganku. “Kau adalah wanita hebat yang pernah ku temui setelah ibuku. Kau adalah wanita yang kuat yang pernah ku temui. Karena kau mampu menghadapiku dengan sabar, kau mampu mengerti keadaanku dan kau mampu menjadi ibu yang hebat bagi anak-anakku, jadi aku tak akan mengijinkan rasa bersalah menghantam dirimu termasuk kesedihan yang akhir-akhir ini selalu menghampirimu.” Dan di akhir ucapannya dia memberikan kecupan singkat di dahiku.
Aku terdiam dengan perlakuannya. Aku merasakan hawa sejuk dan hangat menyelimutiku. Suamiku, Min Yoongi yang dikenal dingin dan blak-blakan, kini terlihat begitu hangat dan bijak.
“Mau ikut denganku?”
“Kemana?”
“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu,” dia menarikku ke dalam ruang kerjanya, studio mini di rumah kami.
Sesampainya di depan layar kerjanya, dia menyuruhku untuk duduk di pangkuannya.
“Aku bisa duduk sendiri,” protesku.
“Begini lebih baik.” dia menarikku hingga aku terduduk di atas pangkuannya.
“Pakai ini,” dia memakaikan Headphone kepadaku. Tangannya bermain dengan mouse dan terus menggerakkan jarinya, menekan-nekan tombol mouse, hingga sebuah lagu terdengar di telingaku.
Lately i’ve been thinking
Thinking about what we had
And i know it was hard
It was all we knew, yeah~
Haeve you been drinking
To take all the pain away?
I wish that i could give you what you deserve
Cause nothing can ever, ever replace you
Nothing can make me feel like you do, yeah
You know there’s no one, i can relate to
I know we won’t find find a love that’s so true
There’s nothing like us
There’s nothing like you and me
Together trough the strom
There’s nothing like us
There’s nothing like you and me, together, oh~
-Nothing Like Us, JB-
“Yoongi-ah,” aku menatapnya, sekali lagi aku di buat speechless olehnya. Dia menoleh ke arahku dan tersenyum. Tangannya lantas menangkup wajahku, dan mendekatkan wajahnya ke arahku, lalu meraih bibirku, dan mengecupnya sepintas.
“Kau tahu, tidak ada yang seperti kau Hana-ya, dan kau telah membuat aku yang semula seorang diri berubah menjadi kita, aku, kau, dan anak-anak menjadi kita.”
“Yoongi-ah,” aku menatap matanya, lalu kembali meraih bibir manisnya. Melumatnya sebentar, sekedar menyalurkan rasa yang terlalu memenuhi hatiku ini. Rasa sayangku padanya.
Terimakasih Yoongi-ah, kau telah menjadi suami, sahabat, dan ayah yang hebat. Aku sungguh tak menyesal mengenalmu bahkan mencintaimu.
END
Sorry guys lama bgt updatenya. soalnya kerjaan lg banyak bgt plus pasien yang akhir-akhir luar biasa.
Sekali lagi maaf ya, dan maaf juga kalo gak ngefeel.

Read More

LIKE APPA

  No comments
15:49:00



Cast : Min Yoongi (Suga BTS), Jung Hana (OC)
Genre : Family, Fluff (little)
Rated : G
Lenght : Ficlet
Disclaimare : Suga and other member belongs to God,
but stiryline and OC belongs to me.
Sorry for typo(s) and I hate plagiarism so don’t copy
paste!
Happy reading ^^
.
.
.
Yoongi POV
Author : Yeonhwa
“Appa aku mau menulis~” rengek bocah yang sekarang
sibuk dengan kertas-kertas bekas dan sedikit ‘membantuku’.
“Ini,” aku mengulurkan pensil dan di sambut antusias
olehnya.
“Appa ini-“
“Jangan ambil yang itu!” aku memberinya peringatan
sebelum dia menarik tumpukan kertas partitur yang
sudah ku susun rapi.
“Kalau ini?” ucapnya sambil menunjuk ke arah tumpukan kertas HVS kosong di samping printer.
“Boleh,” aku memberikannya selembar kertas kosong
yang akan dia gunakan untuk ‘menulis’.
Selesai dengan bocahku, aku kembali berkutat dengan
editing dan arrangement. Kembali ku tatap layar persegi panjang dengan penuh perhatian. Sesekali tanganku memainkan mouse, ku gerakan ke kanan dan ke kiri, mengklik ini dan itu hingga ku rasa apa yang ku kerjakan ini sudah cukup baik.
“Hyunsik sayang, tolong ambilkan kacamata Appa,” aku
meminta tolong pada jagoanku.
“ Nde~ ” ucap bocah itu lalu berlari keluar dari ruang
kerjaku. Aku tertawa melihatnya berlari, sangat lucu
melihatnya berlari dengan tubuhnya yang padat berisi
itu.
“Ini Appa~” dia memberikanku kacamata yang ku minta.
“Terimakasih~” aku mengacak pucuk kepalanya. Dia
tersenyum lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.
Sejenak kulirik dia yang sedang memunggungiku.
Tangannya masih asik bergerak kesana kemari mencoret lembaran putih yang berserakan di depannya. Ku ulas senyum melihat jagoanku yang benar-benar sedang menikmati aktivitasnya itu.
“Pantas saja rumah terasa sepi, kalian ternyata disini,” ucap Hana yang membuatku menoleh ke arahnya. Dia berjalan ke arahku, lantas menempatkan tubuhnya ke kursi yang terletak tak jauh dariku.
“Mixtape baru?” tanyanya, akupun menggeleng, mataku
masih fokus dengan layar elektronik ini.
“Lagu baru?” ucapnya lagi dan aku mengangguk.
“Mau coba mendengarkan?” aku memakaikan Headphone ke telinganya. Ku gerakan kursor lalu mengklik ikon player. Sejenak kemudian Hanaku tersenyum manis.
“Bagaimana?”
“Bagus, tapi sayang sekali ini belum selesai ya?”
“Sedikit lagi, tapi aku rasa pasti Bang Pd-nim meminta untuk editing ulang lagi.” Akupun kembali berkutat dengan editingku, dan aku rasa Hana juga turut memperhatikan aktivitasku sesekali dia menunjuk ke arah layar, memberitahuku bagian mana yang masih kurang dan perlu diperbaiki.
“Eomma~ Appa~” tangan mungil jagoanku menarik
lenganku dan Hana bergantian.
“Ya sa- OMO! Hahaha...” Hana tertawa.
Aku berbalik dan “Hahahaha....” aku turut tertawa.
Ternyata jagoanku ini sedang menirukan gayaku.
“Eomma lihat ini~” celotehnya, dia memakai kacamata
oversize milik appa-nya dan menirukan gaya appanya
yang sedang menunjukkan love sign dengan ibu jari dan jari telunjuknya.
“Aigoo~ siapa yang mengajarimu?” aku mencubit gemas pipinya.
“Appa,” jawabnya polos.
“Benarkan?” Hana balik bertanya padaku.
“Tidak, aku tidak pernah mengajarinya seperti itu,” aku menggeleng.
“Ini~, ini Appa kan?” Hyunsik menunjukkan sebuah foto dari ponsel milikku.
“Hei, sejak kapan kau narsis? Tsk, kau ini suka sekali
melihat artikel-artikel mengenai dirimu sendiri,” cerocos Hana.
“YA! Aku kan hanya ingin tahu saja.” Aku merebut paksa ponselku dari tangannya.
“Kemarikan!” Kembali Hana merebut ponselku.
“YA!”
“Diamlah! Hyunsik-ah, coba ulangi lagi gaya Appa yang
tadi,” Hana meminta Hyunsik untuk mengulanginya lagi, dan CEKREK! Momen lucu itu dia abadikan di ponselku.
END

Read More

NOTHING LIKE US

  No comments
15:00:00

Author : Yeonhwa
Cast : Min Yoongi (Suga BTS), Jung Hana (OC)
Genre : Marriage life, Fluff (little)
Rated : G
Lenght : Ficlet
Disclaimare : Suga and other BTS member belongs to God, but storyline and OC belongs to me.
I hate plagiarism so don’t copy paste!
Happy reading ^^
.
.
.
Hampir satu bulan semenjak musibah itu, satu bulan sudah aku tak lagi bersama dia. Eomma merindukanmu sayang. Ku tatap langit yang telah memekat malam ini. Hitam dan gelap, tak ada yang bisa ku lihat di sana kecuali tiga bintang yang berkelipan di sana. Ya, tiga, aku sempat menghitungnya tadi.
“Hana-ya, sedang apa malam-malam begini?” Yoongi menyelimutiku dari belakang.
“Aku hanya ingin menghirup udara segar,” jawabku.
“Apa ada yang kau pikirkan hm?” dia melingkarkan tangannya ke pinggangku, lalu meletakkan dagunya di pundakku.
“Aku merindukannya, ha~” ucapku diikuti hembusan nafasku yang berat.
“Dia sudah bahagia di sana, dan aku rasa jika dia tahu kalau eomma-nya terus bersedih dia juga akan ikut sedih.” Jelasnya.
“...” aku hanya bisa terdiam. Sebagai seorang ibu yang baru saja kehilangan calon anaknya, aku rasa wajar jika aku merindukannya.
“Hei!” Yoongi membalikkan tubuhku agar menghadapnya, matanya menulusuri setiap lekuk wajahku, begitu pula aku yang dengan serius menatap matanya, mata sipit yang selalu terlihat tulus itu. Tangannya terulur mengusap wajahku, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahku lalu menyelipkannya ke belakang telingaku. Ibu jarinya mengusap pipiku dengan lembut, seolah memberikan kehangatan tersendiri bagiku yang terlihat kedinginan ini.
Aku tak bisa berkata apa-apa, hanya mampu menatapnya di balik cahaya lampu teras rumah yang sedikit meredup. Semakin aku menatapnya, semakin aku merasa bersalah karena kejadian itu. sekuat mungkin ku tahan agar mataku tak mengalirkan sungai bening di pipiku.
“Kau tahu Hana-ya,” dia memulai perkatannya dengan nada yang lirih, hingga terdengar seperti bisikkan bagiku, aku mengedipkan mataku, bermaksud untuk memfokuskan diriku padanya. Tangannya terulur mengenggam tanganku. “Kau adalah wanita hebat yang pernah ku temui setelah ibuku. Kau adalah wanita yang kuat yang pernah ku temui. Karena kau mampu menghadapiku dengan sabar, kau mampu mengerti keadaanku dan kau mampu menjadi ibu yang hebat bagi anak-anakku, jadi aku tak akan mengijinkan rasa bersalah menghantam dirimu termasuk kesedihan yang akhir-akhir ini selalu menghampirimu.” Dan di akhir ucapannya dia memberikan kecupan singkat di dahiku.
Aku terdiam dengan perlakuannya. Aku merasakan hawa sejuk dan hangat menyelimutiku. Suamiku, Min Yoongi yang dikenal dingin dan blak-blakan, kini terlihat begitu hangat dan bijak.
“Mau ikut denganku?”
“Kemana?”
“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu,” dia menarikku ke dalam ruang kerjanya, studio mini di rumah kami.
Sesampainya di depan layar kerjanya, dia menyuruhku untuk duduk di pangkuannya.
“Aku bisa duduk sendiri,” protesku.
“Begini lebih baik.” dia menarikku hingga aku terduduk di atas pangkuannya.
“Pakai ini,” dia memakaikan Headphone kepadaku. Tangannya bermain dengan mouse dan terus menggerakkan jarinya, menekan-nekan tombol mouse, hingga sebuah lagu terdengar di telingaku.
Lately i’ve been thinking
Thinking about what we had
And i know it was hard
It was all we knew, yeah~
Haeve you been drinking
To take all the pain away?
I wish that i could give you what you deserve
Cause nothing can ever, ever replace you
Nothing can make me feel like you do, yeah
You know there’s no one, i can relate to
I know we won’t find find a love that’s so true
There’s nothing like us
There’s nothing like you and me
Together trough the strom
There’s nothing like us
There’s nothing like you and me, together, oh~
-Nothing Like Us, JB-
“Yoongi-ah,” aku menatapnya, sekali lagi aku di buat speechless olehnya. Dia menoleh ke arahku dan tersenyum. Tangannya lantas menangkup wajahku, dan mendekatkan wajahnya ke arahku, lalu meraih bibirku, dan mengecupnya sepintas.
“Kau tahu, tidak ada yang seperti kau Hana-ya, dan kau telah membuat aku yang semula seorang diri berubah menjadi kita, aku, kau, dan anak-anak menjadi kita.”
“Yoongi-ah,” aku menatap matanya, lalu kembali meraih bibir manisnya. Melumatnya sebentar, sekedar menyalurkan rasa yang terlalu memenuhi hatiku ini. Rasa sayangku padanya.
Terimakasih Yoongi-ah, kau telah menjadi suami, sahabat, dan ayah yang hebat. Aku sungguh tak menyesal mengenalmu bahkan mencintaimu.
END
Sorry guys lama bgt updatenya. soalnya kerjaan lg banyak bgt plus pasien yang akhir-akhir luar biasa.
Sekali lagi maaf ya, dan maaf juga kalo gak ngefeel.

Read More

LOST

  No comments
14:57:00

Author : Yeonhwa
Cast : Min Yoongi (Suga BTS), Jung Hana (OC)
Genre : Marriage life, Fluff (little)
Rated : G
Lenght : Ficlet
Disclaimare : Suga and other BTS member belongs to God, but storyline and OC belongs to me.
I hate plagiarism so don’t copy paste!
Happy reading ^^
.
.
.
HANA POV
“Eomma~, aku mau membantu juga~,” rengek nyunsik sambil menunjuk ke arah sekop kecil yang sedang ku pegang.
“Boleh, Hyunsik bantu mengaduk ini ya,” aku menyodorkan sebuah pot yang berisi tanah dan pupuk yang belum ku campur.
Bocahku mengangguk girang, dengan semangat dia mengaduk campuran tanah-pupuk yang ku berikan. Untungnya kali ini Hyunsik benar-benar membantuku.
“Selesai!” celotehnya riang setelah seluruh pot terisi oleh campuran tanah. “Selanjutnya apa eomma?” tanyanya, rupanya dia sangat antusias dengan berkebun.
“Selanjutnya taruh pot-pot ini di sana.” Ucapku sambil menunjuk ke arah deretan bunga-bunga yang baru saja aku semaikan.
“Oke~,” tangan mungilnya mengangkat pot kecil itu satu persatu. Aku mengawasinya dari sini. Tumben sekali dia membantu dengan baik dan benar.
“Eomma ini apa?” tangan kanannya memegang seekor cacing tanah, dan,
“YA! BUANG SAYANG!” aku menghampirinya,”Itu cacing, biarkan dia pulang, rumahnya ada di tanah. Dan eomma geli dengan cacing, CEPAT BUANG!” aku tak tahan lagi, memang aku sangat geli dengan makhluk kenyal penghuni tanah lembab itu.
“Kenapa? Ini kan lu- KYAAAA EOMMAAAA CACINGNYA!” Dia menjerit ketakutan ketika cacing yang dia pengang melilit jari telunjuknya. Tangannya dia kibas-kibaskan hingga cacing itu terjatuh ke tanah.
“Nah, sekarang ayo cuci tangan,” aku menuntunnya ke arah keran air yang tak jauh dari teras rumah. Dengan sabar ku bersihnya tangan dan kakinya yang belepotan dengan tangah.
“Ah~” aku mengaduh pelan, perutku terasa sakit. Sementara jagoanku masih terdiam asik dengan perlakukan yang ku berikan.
“SAMCHEON...IMO...!” Hyunsik berlalu ketika matanya melihat dua adik kesayangnaku.
“PELAN-PELAN SAYANG, AH!” BRUK! Aku ambruk dan tersungkur.
“NUNNAA...!”
“EONNIII...!”
Aku masih mendengar teriakan dari Jungkook dan Yoonri, tapi aku terlalu fokus dengan perutku. Ku pengangi perutku, berharap makhluk mungilku baik-baik saja.
“Nunna,” Jungkok membatuku berdiri.
“HUWAAA EOMMA...!” tangan Hyunsik memecah. Dia menjerit melihatku terjatuh tadi.
“Cup...cup...sayang, eomma tidak apa-apa, ayo kita masuk.” Aku melihat Yoonri menggendong Hyunsik yang masih sesenggukkan.
“Ah~” aku merintih lagi, baru saja aku berjalan tiga langkah tapi sakit di perutku semakin hebat. Eomma mohon sayang, bertahanlah.
“Eomma~, eomma berdarah imo~, HUWEEEEE...!!!” Hyunsik kembali menangis.
“ASTAGA JUNGKOOK-AH!” Yoonri memekik melihat bagian belakang bajuku terdapat bercak darah.
“KITA HARUS KE RUMAH SAKIT SEKARANG! AMBILKAN KUNCI MOBIL YOONGI HYUNG!” dengan sigap kekasih dari adik iparku ini membawaku ke rumah sakit.
Aku sendiri sudah tak memperdulikan apapun, bahkan aku memasrahkan Hyunsik pada Yoonri, pikiranku sekarang terfokus pada calon bayiku.
“Sebentar lagi nunna, bersabarlah,” Ucap Jungkook sambil mengemudikan mobil. Aku sendiri tidak tahu sejak kapan dia bisa menyetir. Dan untungnya Yoongi tidak menggunakkan mobilnya hari ini.
.
.
.
.
YOONGI POV
“Dimana Hana?” aku masih terengah-engah. Pikiranku begitu kacau. Sejak semalam Hana terus mengeluh kalau perutnya sakit, dan semalaman juga aku tidak bisa tidur nyenyak karenanya.
“Masih di dalam hyung,” ucap Jungkook.
Aku berdiri di depan pintu kamar operasi. Jungkook dan Yoonri bercerita kalau dokter terpakasa harus mengambil tindakan Curretage and Dilatation (D&C) demi meyelamatkan rahim Hana. Aku melirik Hyunsik sudah terlelap di pelukan Yoonri, dia terlalu lelah menangisi eomma­-nya. Ha~, ku hembuskan nafasku kasar, ku usap wajahku. Tuhan, cobaan apa lagi ini?
“Suami Nyonya Jung Hana?” seseorang yang aku rasa dokter, memanggilku, suami Hana.
“Ya saya,” aku melangkah maju menghampiri pria berbaju hijau tosca yang baru saja keluar dari ruang operasi.
“Maafkan saya, tapi saya harus mengambil tindakan ini demi keselamatan istri anda. Eum, tuan, apakah sebelumnya istri anda pernah mengeluh sakit perut selama dia hamil?” tanyanya.
“Iya dok, dia sering mengeluh sakit dan katanya perutnya berkontraksi terlalu kencang.” Jelasku.
“Ya, itu karena ada sedikit masalah pada kehamilannya. Kontraksi yang demikian disebut kontraksi dini, namun saya rasa istri anda mengalami kontraksi dini dan disertai dengan bercak darah, apakah istri anda menceritakannya pada anda?”
“Tidak, dia tidak bercerita apapun selain kontaksi yang membuatnya sakit.” Aku lemas seketika mendengar penjelasan dokter, sungguh aku suami yang bodoh, aku bahkan tidak tahu kalau istriku sedang mengalami masa-masa sulitnya yang benar-benar mengancam jiwa calon bayi kami.
“Saya harap setelah ini, nyonya Jung bisa sehat kembali, saya permisi dulu,” pamit sang dokter dan tak jauh dibelakangnya istriku menyusul dengan tiga orang perawat yang mendorong bed-nya.
Dengan sisa tenaga yang ada aku mengekor rombongan. Ku kuatkan diriku sebisa mungkin, karena aku ingin menguatkan Hana yang sudah bisa kupastikan dia akan meraung sedih setelah ini.
“Maafkan aku Hana-ya,” aku menggenggam erat tangan istriku yang masih terlelap karena pengaruh bius.
“Eung~,” lenguhnya.
“Sayang~,” aku mengucapkan kata-kata langka yang memang jarang aku ucapkan untuknya, ku elus pucuk kepalanya, ku kecup punggung tangannya.
“Maaf,” lirihnya, lalu bulir bening menetes dari matanya.
Ku ulas senyum, ku kecup keningnya. “Untuk apa minta maaf? Justru akulah yang harusnya meminta maaf.”ku hapus aliran sungai di pipinya dengan kedua ibu jariku. Dia menggeleng menanggapi perkataanku.
“Maaf, karena aku tidak bisa menjaganya dengan baik,” ucapnya lemah.
Ku tatap matanya lekat-lekat. Oh Tuhan, kenapa aku begitu bodoh, seharusnya dulu aku tak mengambil jadwalku yang begitu padat, tapi lihat sekarang, dia harus menanggung sakit karenaku.
“Maafkan aku Hana-ya, seharusnya aku berada di sampingmu, harusnya akulah yang meminta maaf. Kau tak salah, akulah yang salah. Harusnya aku tidak mengambil jadwalku yang begitu padat. Harusnya aku menemanimu melewati saat-saat sulitmu. Maafkan aku sayang~” CUP, aku mencium keningnya. Ku rengkuh tubuh lemahnya dalam pelukanku. Membiarkan dia membagi bebannya denganku saat ini, meski terlambat.
END

Read More

DOCTOR HYUNSIK

  No comments
10:29:00

Author : Yeonhwa
Cast : Min Yoongi (Suga BTS), Jung Hana (OC)
Genre : Marriage life, Fluff (little)
Rated : G
Lenght : Ficlet
Disclaimare : Suga and other BTS member belongs to
God, but storyline and OC belongs to me.
I hate plagiarism so don’t copy paste!
Happy reading ^^
.
.
.
“Bagaimana kondisinya dok?” Suamiku terlihat sangat
khawatir dengan kondisiku.
“Duduklah tuan,” dokter itu mempersilahkan Yoong untuk duduk, sementara aku masih sibuk membenahi pakaianku.
Aku dan Yoongi memutuskan untuk berkunjung ke dokter kandungan yang menanganiku sejak awal aku hamil Hyunsik. Ini adalah kunjungan yang ketigaku dalam waktu satu bulan. Entahlah, semakin ke sini perutku semakin tak enak. Mualku pun terkadang datang dan pergi namun yang jelas kontraksi tak wajar di perutku semakin ku rasakan. Karena itulah Yoongi mengajakku untuk memeriksakan kandunganku. Khawatir dengan kondisi calon adik Hyunsik.
“Saya menyarankan istri anda untuk bedrest total.
Kandungannya cukup lemah untuk sekarang ini. Saya
khawatir jika dia memaksakan diri untuk tetap
beraktivitas kandungannya akan kalah.” Papar dokter
yang bisa ku dengar dengan sangat jelas. Aku melihat
Yoongi yang menganggukan kepala.
“Ini resepnya dan jika ada sesuatu segera bawa istrimu kemari,” lanjut dokter.
“Terimakasih, ayo,” Yoongi mengamit lenganku,
memapahku yang sedikit lemas.
Kami berjalan menuju loket pengambilan obat. Aku duduk di bangku tunggu bersama dengan Hyunsik, dia masih asik dengan mainan barunya. Ku elus perutku ada sedikit nyeri yang kurasakan.
“Sayang, eomma mohon bertahanlah,” aku berbisik pada makhluk yang sang berjuang diperutku.
“Ayo kita pulang.” Ajak Yoongi setelah mendapatkan
sepaket obat-obatan yang harus aku minum.
.
.
.
“ Eomma~ , Hyunsik periksa dulu ya~” celoteh jagoanku dengan mainan dokter-dokteran di tangannya. Dia bermain peran menjadi dokter yang merawatku.
“ Eomma tiduran~,” perintahnya lagi, dan akupun
menurut, toh bermain dengannya kali ini tidak
memerlukan aktivitas fisik yang berat, cukup tiduran di atas kasur. Tangan mungulnya menempelkan stetoschope mainannya ke dada dan perutku. Berlagak seolah dia mendengar detak jantungku dan pernafasanku.
“Adik bayi, jangan nakal sama eomma ya, kasihan eomma kan jadi sakit~,” jemarinya mengusap perutku,
membuatku tersenyum dan sedkit terharu.
“ Eoh ~, ada dokter Hyunsik. Jadi eomma sakit apa
dokter?” Yoongi ikut menimbrung.
“ Eomma harus banyak tidur appa, dan adik bayi juga
harus istirahat biar eomma sehat. Eomma , ini obatnya, ha-rus-di-mi-num.” Lagi, jagoanku berceloteh dengan penekanan penuh pada akhir kalimatnya.
“Uhuk...” aku sedikit tersedak, ah~ obatnya besar sekali dan pahit.
“Pelan-pelan eomma~ ,” Hyunsik menepuk-nepuk
punggungku.
“ Cha~ ,Hyunsik jaga eomma dulu ya, appa mau beres-
beres.” Perintah Yoongi, tangannya mengacak pucuk
kepala bocah itu, “Dan kau, kau tidak boleh beranjak
dari sini. Jika perlu apa-apa panggil aku, mengerti?”
titahnya lagi, dan aku mengangguk.
“ Nde~ ,” ucapku.
Seharian berada di atas kasur membuatku bosan.
Kuputuskan untuk berpindah ke ruang tegah, menonton
televisi mungkin bisa membunuh rasa bosanku. Ku
dudukkan diriku di atas sofa lalu ku sandarkan
punggungku , ah~ sungguh nikmat. Ya lebih baik begini
dari pada harus terus berbaring di atas kasur.
“ Eomma~ kenapa di sini?” Hyunsik berlari ke arahku
lantas tangan kanannya terulur menyentuh dahiku setelah itu dia kembali memeriksaku dengan stetoschope -nya.
“Ah, eomma sudah tidak sakit?” tanyanya.
“ Eoh~ , eomma sudah sedikit membaik, sudah tidak apa-apa.” Aku mengenggam tangan mungilnya. Lalu tangan kirinya kembali terulur dan mengusap perutku.
“Adik bayi tidak nakal kan?” tanyanya polos.
“Adik bayi sudah tidak nakal lagi sayang,” aku mengelus kepala jagoanku lalu mencium keningnya.
“Apa eomma lapar? Appa sedang masak loh~,”
“ Eoh , apaa? Memasak?” aku menoleh kearah dapur dan errr, pemandangan buruklah yang tertangkap oleh
mataku. Oh Tuhan, apa Yoongi mengacaukan dapurku?
END
Maaf banget ini bener-bener gak ngefeel. Soalnya aku
juga lagi buntu kudu nulis kaya gimana lagi. Ini cuman
selingan aja. Iseng daripada bengong dan bingung. Sekali
lagi maaf ya kalau gak ngefeel.

Read More

MISS YOU

  No comments
09:56:00


Author : Yeonhwa
Cast : Min Yoongi (Suga BTS), Jung Hana (OC)
Genre : Marriage life, Fluff (little)
Rated : G
Lenght : Ficlet
Disclaimare : Suga and other BTS member belongs to
God, but storyline and OC belongs to me.
Sorry for typo(s) and I hate plagiarism so don’t copy
paste!
Happy reading ^^
.
.
.
.
Hujan masih mengguyur. Hawa dingin mulai menusuk ke tubuhku. Ku ambil selimut dan ku bungkus tubuhku dengan selimut berwarna coklat itu. Tanganku mengelus perutku yang sudah membuncit.
“Apa kau tak merindukan appa hm~?” aku bermonolog
dengan calon bayiku.
“Ha~” helaan nafas panjang mengakhiri perbincangan
kami, aku dan calon bayiku. Mataku beralih melirik jarum jam yang masih berputar. Pukul sembilan malam. Segera kuhabiskan susu hangat yang sedari tadi tergeletak di atas meja, lalu berpindah tempat ke kamar tidurku.
“Tidur yang nyenyak ya sayang~” CUP~ aku mencium
kening jagoanku yang sudah lebih dulu terlelap.
Kusandarkan punggungku ke headboard ranjang. Tanganku terulur mengambil sebuah novel yang selalu menjadi pengantar tidurku. Mataku memang menghadap ke rententan huruf yang terketik rapi di buku yang kupegang, namun tak sedikitpun kalimat yang bisa ku cerna. Pikiranku benar-benar terfokus pada seseorang yang sangat kurindukan. Min Yoongi, suamiku, ayah dari anak-anakku, aku sangat merindukannya saat ini.
Aku memperhatikan sejenak ponsel yang tak jauh dariku. Ku ambil benda berbentuk persegi empat itu, ku usap layarnya, berharap ada sebuah pesan atau panggilan masuk. Namun nihil. Hanya ada fotoku dan kedua jagoanku, tak ada notifikasi apapun di sana.
“Aku merindukanmu Yoongi-ya~” lirihku. Tak seperti
biasanya, kali ini aku benar-benar merindukannya.
Padahal di awal kehamilanku aku justru merasa enggan
untuk berdekatan dengannya. Lima hari sudah dia pergi, demi pekerjaannya, demi para fansnya, demi menghibur orang-orang yang telah menunggunya. Aku maklumi itu.
Ku pendam rasa rinduku ini, mataku mencoba untuk
terpejam, dan berusaha untuk memasuki alam mimpi.
Berharap ayah dari anak-anakku bisa hadir di sini.
.
.
.
.
Angka lima dan dua angko nol, itulah yang ku tangkap
dari mataku. Pukul lima pagi, aku terbangun sepagi ini. Ku langkahkan kakiku menuju dapur, segelas air membasahi kerongkonganku yang kering. Ku buka kulkas, ah~ masih ada beberapa sayuran dan juga bahan-bahan lain yang masih bisa ku masak. Ku putuskan untuk berjalan-jalan sebentar di lingkungan sekitar, mumpung Hyunsik belum bangun.
“Udara pagi memang menyegarkan! Ha~” aku menghirup udara segar pagi sebanyak yang ku mau, lalu
menghembuskannya kuat-kuat, rasanya segar sekali.
“Cha~ ayo kita olah raga!” aku mengelus perutku lalu ku ajak dia berolah raga pagi, tepatnya jalan-jalan pagi.
Cukup tiga puluh menit aku menghabiskan pagiku dengan berolah raga, dan cukup membuat tubuhku berkeringat.
“Ah, segarnya!” ucapku selesai meneguk segelas air.
“Kau sudah pulang?”
“Eum~” aku mengangguk. Tunggu dulu, suara itu, suara
orang yang sangat ku rindukan.
“Kau!” aku memekik kaget, sementara orang yang
kurindukan itu justru sedang asik sendiri di sofa dengan laptop serta headphone-nya.
“Kau habis dari mana saja?” tanyanya.
“Sejak kapan kau ada di sini?” tanyaku balik.
“Sejak kau keluar tadi.” Jawabnya enteng.
Hatiku yang terlalu merindukannya menuntun kakiku
untuk mendekatinya. Ku peluk erat tubuhnya, ku
tenggelamkan kepalaku di lehernya. Menghirup aroma
yang ku rindukan.
“Ya! Apa yang kau lakukan?” protesnya.
CUP~ Aku mengecup leher putihnya. “Aku sungguh
merindukanmu.” Ucapku lalu kembali menenggelamkan
wajahku.
“Tsk! Ini masih pagi Hana-ya,” ku dengar dia tertawa.
Aku meloanggarkan pelukanku, ku jauhkan wajahku
darinya. Dia pun berbalik menaghadapku lantas
tersenyum, senyum yang manis, senyum yang selalu ku
rindukan.
CUP~ dia mencium bibirku sekilas, “Aku juga merindukan kalian, kau, Hyunsik, dan dia,” ucapnya sambil mengusap perutku. “Maafkan appa sayang, appa harus bekerja meningalkan kalian. Apa kau baik-baik saja? Apa kau makan dengan baik? Kau tak membuat eomma -mu kesusahan kan?” dia mengajak makhluk yang ada di perutku ini berbicara.
Aku tersenyum melihatnya. Sungguh dia sangat lucu,
manis, dan menyebalkan. Dia tega meninggalkan ku dan
membiarkanku harus menanggung rindu yang teramat
sangat.
“Aku makan dengan baik appa~ , aku juga tidak menyusahkan eomma~ ,” aku menjawab pertanyaannya
dengan nada yang kubuat-buat.
Dia menatapku, “Benarkah kau sudah bisa makan? Mual-mualmu?”
“Sudah lebih baik, aku juga sudah bisa memasukkan
beberapa makanan, meski harus sedikit-sedikit,”
“Perlahan saja, yang penting ada makanan yang masuk ke perutmu,”
“Ah, kau mau sarapan apa? Biar ku buatkan.” Tawarku.
“Terserah kau saja, yang penting berkuah dan hangat,”
“Baiklah, tunggu sebentar aku akan memasakkannya” aku
berlalu darinya menuju dapur membuatkan makanan yang dia minta.
“Hana-ya,” panggilnya dengan tangan yang melingkar di pinggangku.
“Hm~”
“Terimakasih,” ucapnya.
“Untuk?”
“Semuanya, terimakasih, atas semuanya,” ucapnya yang membuatku menoleh ke arahnya. Sebuah senyumanpun kembali dia berikan.
Terimakasih Tuhan, Kau telah memberiku suami seperti Yoongi, seseorang yang penyayang dan sabar. Terimakasih Tuhan.
END

Read More