Showing posts with label Marriage life. Show all posts

Nappeun Namja

  No comments
21:08:00

NAPPEUN NAMJA



FF req for Fadhila Herdiana Wanti
Hope U Like It :*
Mian jelek :3

Author : Dina aka Choi Rae Won

Cast :
Jessica Jung
Kai Kim

Genre : Marriage life, Romance, little bit Komedy

Happy Read ^^

Pagi yang cerah di kota Gangnam— Seoul. Burung-burung bersenandung akan keindahan kota ginseng tersebut. Seorang yeoja baru saja terbangun dari tidurnya, ia menggeliat dan menguap pelan. Mengusap-usap matanya yang masih setengah tertutup. Yeoja itu melirik ke arah samping, seorang namja masih tertidur pulas— tangannya merangkul pinggul yeoja tersebut. Yeoja itu tersenyum sekilas melihat wajah sang namja yang begitu polos ketika ia tidur.

'Bagaimana bisa namja yadong sepertimu mempunyai wajah polos bagaikan bayi saat tidur.' gerutu yeoja itu dalam hatinya. Tangannya menyusuri pelan lekukan wajah namja itu, dari kening, hidung, bibir hingga dagu.

"Katakan kalau kau menginginkannya Jess!" ucap namja itu setengah sadar. Yeoja bernama Jessica itu hanya bisa bengong. Ternyata namja itu tidak sepenuhnya masih tidur.

"Kau mau 'itu' bukan ?" namja itu mengeluarkan seringainya— matanya masih tertutup— tangannya semakin erat merangkul pinggul yeoja itu.

"Dasar namja yadong!!"

"Morning Kiss Baby.."

"Tidak ada morning kiss Kai. Sebaiknya kau bangun. Bukankah hari ini kau ada syuting ?"

Cup!!

Dengan mata yang masih terpejam, namja itu meraih leher Jessica kemudian mendaratkan bibirnya di bibir mungil yeoja itu. Melumatnya pelan— lalu kembali melepasnya— melanjutkan tidurnya.

Dia adalah Kai Kim, seorang aktor terkenal dari Korea. Aktor yang dikenal begitu dingin namun sangat profesional dan handal. Kemampuan aktingnya tidak bisa diragukan lagi. Beberapa judul film sudah ia perankan, membuat namanya semakin meroket dan kemampuannya juga sudah mendapat pengakuan dengan beberapa penghargaan yang sudah ia peroleh.

Aktor yang baru saja menikah dengan seorang pemain drama musikal itu bagaikan pasangan raja dan ratu. Keduanya begitu serasi, banyak yang merasa iri. Kai yang tampan mendapatkan putri secantik Jessica. Mereka benar-benar akan menjadi keluarga yang bahagia.

Tapi pikiran orang-orang diluaran sana tidaklah semuanya benar. Jessica tidak sebahagia yang mereka pikirkan. Menikah dengan orang yang dicintai memang membahagiakan. Tapi bagaimana jika orang itu begitu dingin dan terkadang menyebalkan. Melamar wanita dengan cara tidak wajar. Melamar dan memaksa bahkan tidak ada bedanya.

Mereka sudah menikah selama satu tahun. Walaupun Jessica tahu bagaimana sifat Kai selama ini, tapi setidaknya ia bisa meluluh karena sudah beristri. Tapi nyatanya tidak— Kai tetaplah Kai. Seorang namja menyebalkan yang dengan bodohnya sangat dicintai Jessica.

Jessica menghela nafasnya pelan menerima perlakuan suaminya.

"Mana ada morning kiss dengan cara memaksa."

"Yang penting aku sudah mendapatkannya."

"Bodoh!!"

"Tapi kau menyukainya."

Jessica sadar jika ia terus menimpal perkataan Kai, tidak akan ada habisnya. Ujung-ujungnya dia lah yang memang harus mengalah. Namja itu tidak ingin kalah, apalagi sampai mengalah. Namja itu memang keras kepala.

——

Jessica sibuk menyiapkan sarapan untuk ia dan suaminya— hanya sekedar nasi goreng, tapi Jessica sudah kewalahan. Semenjak menikah, Jessica yang tidak bisa memasak terus belajar hingga akhirnya ia bisa membuat nasi goreng. Setiap hari sarapan pagi mereka selain roti ya nasi goreng. Sebenarnya Kai sudah bosan, tapi ia tidak mau menyakiti hati istrinya. Kadang nasi goreng itu rasanya asin, hambar tapi Kai sama sekali tidak pernah mengeluh walaupun dalam hatinya menggerutu.

"Nasi goreng ? Lagi!"

"Hanya ini yang aku bisa Kai."

"Ahh!! Aku lupa." sahut Kai dengan malas.

Kai segera meraih kursinya untuk duduk. Menatap nasi goreng dengan telur setengah matang di atasnya. Penampilannya cukup lumayan, tapi bagaimana dengan rasanya ?
Suapan pertama— ekspresi wajah Kai berubah seketika.

'Kemarin hambar. Sekarang asin. Besok apa lagi ? Jangan-jangan dia akan menaruh racun tikus di dalamnya.' Kai terus menggerutu dengan malas-malasan memasukkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.

"Bagaimana ?" tanya Jessica penasaran— duduk di samping Kai.

"Enak.."

Jessica tersenyum mendengar pujian suaminya— Kai hanya mengerucutkan bibirnya.

"Aku akan ke lokasi syuting sekarang. Dan mungkin hari ini jadwalku lebih padat, aku akan pulang tengah malam. Jangan coba untuk menungguku lagi. Tidurlah secepatnya."

Kai mengayunkan tangannya— mengusap lembut puncak kepala Jessica sebelum mendaratkan ciumannya disana.

"Ne.. Arasseo~"



"Huweekk.. Huweek!!" Jessica merasakan mual pada perutnya. Perasaan ingin muntah dan kepalanya juga sedikit pusing.

'Apa ini—'

"Huweekk huweeekk.. Uh!!"

Tanpa pikir panjang, Jessica langsung berjalan menuju sebuah rumah sakit yang kebetulan dekat dengan rumahnya. Mungkin ia masuk angin, sebelum bertambah parah ia akan meminta resep kepada dokter langganannya.



"Aku mencintaimu. Kumohon jangan tinggalkan aku. Tetaplah bersamaku."

"Tidak.. Maafkan aku—"

Cut!!

"Kim Taeyeon— ekspresimu kurang. Come on kau harus menghayati peran ini. Break semuanya!! Kita lanjut setelah makan siang."

Begitulah kegiatan Kai, ia sedang menyelesaikan film terbarunya, kali ini ia di pasangkan dengan aktris baru yang mulai naik daun Kim Taeyeon. Ini sudah ke 10 kalinya gagal take karena Taeyeon tidak menghayati perannya. Kai kesal, begitu juga dengan sang sutradara yang kepalanya sudah berasap.

"Yaak!! Kim Taeyeon. What happen with you ? Ini sudah 10 kali. Aku bosan." omel Kai— mereka sedang istirahat di ruang ganti.

"Mianhae—" Taeyeon hanya menunduk— merasa bersalah.

"Kenapa aku harus di pasangkan dengan artis yang sama sekali tidak berbakat sepertimu."

Taeyeon hanya menarik nafas mendengar omelan pedas dari sunbaenya itu. Begitulah Kai, ia tidak berpikir dahulu untuk berbicara. Selalu saja menyakiti hati orang, berbicara hanya sesuka hatinya saja.

"Mianhae— aku janji akan belajar lagi."

"Belajar ? Hah!! Dalam situasi seperti ini kau bilang belajar. Dasar bodoh!!"

Kai yang kesal segera pergi meninggalkan lokasi syuting. Tiba-tiba saja sebuah panggilan masuk dengan nama Baby Jung tertera di layar ponselnya. Kai segera mengangkat telepon tersebut.

"Waeyo baby ?"

'Bisakah kau pulang cepat hari ini.'

"Memangnya ada apa ?"

'Ada hal penting yang mau aku bicarakan sekaligus kabar gembira.'

"Eoh! Baiklah. Aku akan pulang sekarang juga."

Setelah menutup teleponnya Kai segera melajukan mobil ferrari hitam miliknya— ia penasaran dengan kabar gembira yang akan Jessica beritahukan padanya.

"Argh!! Sial!! Kenapa harus macet!!" gerutu Kai dengan kesal. Macet dan macet— pertama Taeyeon, kedua macet. Membuat hati namja itu semakin gerah saja.

Setelah 30 menit berlalu akhirnya jalanan itu mulai lengang, Kai langsung menginjak pedal gas dan menaikkan kecepatan mobilnya.

Bruukkk!!!

Secepat kilat itu terjadi— dua buah mobil bertabrakan dengan kondisi mobil yang hancur keduanya. Apa yang terjadi ? Kai sendiri tidak menyadari bahwa tepat di hadapannya ada sebuah mobil yang melaju cepat tak terkendali dan harus bertabrakan dengan mobilnya. Kedua mobil itu terguling ke sisi jalan. Kai yang merasa kepalanya sudah sangat berat akhirnya tak mampu lagi untuk membuka matanya. Seketika penglihatannya langsung sayup dan ia pun tak sadarkan diri.



"Apa????"

Jessica yang menerima telepon sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. Ponsel digenggamannya pun harus terjatuh. Ia baru saja di telepon mengenai kejadian yang menimpa suaminya. Dengan panik Jessica berlari ke depan rumahnya dan menyetop taksi yang berlalu lalang disana.

Jessica terus menangis di dalam taksi, andai saja ia bisa bersabar untuk memberitahu suaminya. Pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Ini semua salahnya yang tidak bisa bersabar.



"Huweeee..... Maafkan aku.. Huweeee..."

Jessica terus menangis— ia sedang duduk di kursi yang terletak di samping bangsal tempat Kai terbaring.

Sudah hampir malam, dan sudah 3 jam Kai tidak sadarkan diri. Padahal ia hanya mengalami luka yang cukup ringan. Kaki dan lehernya yang terluka, untunglah ia tidak tewas.

"Huweee... Bangunnn Kai.. Huweee.." Jessica terus menangis sampai matanya bengkak dan memerah.

"Berhentilah menangis. Memangnya kau sudah jadi janda hah ? Aku tidak apa-apa."

"Aku khawatir huwee... Aku takut jika harus menjadi janda. Huweeee."

"Berisik.. Kau tidak akan menjadi janda. Dasar bodoh!!"

"Kau yang bodoh.. Orang yang ceroboh mengemudikan mobil itulah yang bodoh." Jessica menyeka air matanya. Bodohnya jika ia terus menangis sedangkan yang ditangisi malah mengejeknya.

Kai terdiam sejenak— melihat wajah istrinya begitu ketakutan jika harus menjadi janda. Yeoja itu kadang terlihat sangat menggemaskan.

"Sini kita tidur bersama."

Kai membuka selimutnya— bergeser ke samping. Memberikan ruang kosong untuk di tempati Jessica.

"Ini rumah sakit.. Lagipula aku sedang hamil."

'Hamil ? Jadi itu berita bahagianya.' Kai tertawa melihat ekspresi Jessica. Harusnya ia bisa bangkit dan memeluk istrinya. Tapi tidak untuk saat ini, tubuhnya masih lemah akibat tabrakan tadi siang.

"Memangnya kenapa kalau ini Rumah Sakit ? Kita kan tidak melakukan 'itu' hanya tidur saja." Kai terus meyakinkan Jessica. Bagaimana mungkin Jessica dengan mudah mempercayai namja yadong seperi dia. Itu sulit di percaya. Dari tatapannya saja Jessica sudah bisa menebak kemana arah pikiran Kai nantinya.

"Yakk!! Jangan menatapku seperti itu. Kita hanya tidur bersama saja. Tidak macam-macam. Aku jamin."

Jessica hanya bisa pasrah, lagipula ini sudah malam dan ia pun harus tidur cepat agar kesehatan bayinya tidak terganggu.

Jessica segera berbaring di samping suaminya. Mereka berdua menatap langit-langit kamar rumah sakit itu dengan diam. Jessica senang suaminya tidak mengalami luka parah, dan ia pun tidak akan menjadi janda. Namun— seketika raut wajah Jessica berubah. Tangan Kai yang ia bilang hanya ingin memegang tangan Jessica, kini malah memegang sesuatu yang lain.

"Yak!! Geser tanganmu. Kau pikir itu tanganku eoh ?"

"Sttt.. Diamlah, aku hanya ingin merasakan calon bayi kita di dalam sana."

Kai mengusap lembut perut datar Jessica yang tidak lama lagi akan membesar dan semakin menampakkan anak mereka nantinya.

"Baru seperti ini, masih tidak terlihat." ucap Kai— masih mengelus perut Jessica. Jessica merasakan geli begitu tangan Kai terus saja mengelus perutnya, ia segera meggenggam tangan Kai di perutnya. Ikut merasakan hangatnya usapan lembut suaminya.

Rasa ngantuk mulai menghinggapi yeoja cantik itu, perlahan ia mulai tertidur. Namun tiba-tiba saja matanya kembali terbuka. Gara-garanya tangan Kai yang sudah tidak berada di perut Jessica lagi. Kini tangan Kai sudah meraba tempat lain, membuat Jessica menjadi kesal.

"Kau memang tidak bisa dipercaya Tuan Kim. Dulu, waktu kita pertama kali tidur bersama kau bilang hanya akan memegang tanganku. Tapi ternyata kau malah memegang yang lainnya juga." gerutu Jessica dengan kesalnya.

"Kau kan istriku. Jadi tidak ada yang bisa melarang aku melakukannya."

"Yakk!! Lepaskan tanganmu dari situ."

"Tidak mau. Sudah lama aku tidak memainkan benda ini."

"Dasar bodoh!! Hentikan.. Nanti kalau ada yang lihat bagaimana ? Lagipula kau sudah mendapatkannya dua hari yang lalu."

"Biarkan saja."

"Aku kan sedang hamil Kai. Jangan coba-coba melakukan kekerasan terhadap istrimu."

"Kekerasan ? Seorang suami yang berusaha menyenangkan istrinya kau bilang kekerasan ? Hahaha." Kai tertawa puas melihat istrinya yang sudah jengkel terhadapnya. Jessica berusaha menyingkirkan tangan Kai dari sesuatu miliknya, tapi tetap saja tenaga Kai lebih besar di bandingkan dengan tenaganya walaupun namja itu masih sakit.

"Dasar!! Nappeun Namja --"

END!!!


Read More

NOTHING LIKE US

  No comments
11:34:00

Author : Yeonhwa
Cast : Min Yoongi (Suga BTS), Jung Hana (OC)
Genre : Marriage life, Fluff (little)
Rated : G
Lenght : Ficlet
Disclaimare : Suga and other BTS member belongs to God, but storyline and OC belongs to me.
I hate plagiarism so don’t copy paste!
Happy reading ^^
.
.
.
Hampir satu bulan semenjak musibah itu, satu bulan sudah aku tak lagi bersama dia. Eomma merindukanmu sayang. Ku tatap langit yang telah memekat malam ini. Hitam dan gelap, tak ada yang bisa ku lihat di sana kecuali tiga bintang yang berkelipan di sana. Ya, tiga, aku sempat menghitungnya tadi.
“Hana-ya, sedang apa malam-malam begini?” Yoongi menyelimutiku dari belakang.
“Aku hanya ingin menghirup udara segar,” jawabku.
“Apa ada yang kau pikirkan hm?” dia melingkarkan tangannya ke pinggangku, lalu meletakkan dagunya di pundakku.
“Aku merindukannya, ha~” ucapku diikuti hembusan nafasku yang berat.
“Dia sudah bahagia di sana, dan aku rasa jika dia tahu kalau eomma-nya terus bersedih dia juga akan ikut sedih.” Jelasnya.
“...” aku hanya bisa terdiam. Sebagai seorang ibu yang baru saja kehilangan calon anaknya, aku rasa wajar jika aku merindukannya.
“Hei!” Yoongi membalikkan tubuhku agar menghadapnya, matanya menulusuri setiap lekuk wajahku, begitu pula aku yang dengan serius menatap matanya, mata sipit yang selalu terlihat tulus itu. Tangannya terulur mengusap wajahku, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahku lalu menyelipkannya ke belakang telingaku. Ibu jarinya mengusap pipiku dengan lembut, seolah memberikan kehangatan tersendiri bagiku yang terlihat kedinginan ini.
Aku tak bisa berkata apa-apa, hanya mampu menatapnya di balik cahaya lampu teras rumah yang sedikit meredup. Semakin aku menatapnya, semakin aku merasa bersalah karena kejadian itu. sekuat mungkin ku tahan agar mataku tak mengalirkan sungai bening di pipiku.
“Kau tahu Hana-ya,” dia memulai perkatannya dengan nada yang lirih, hingga terdengar seperti bisikkan bagiku, aku mengedipkan mataku, bermaksud untuk memfokuskan diriku padanya. Tangannya terulur mengenggam tanganku. “Kau adalah wanita hebat yang pernah ku temui setelah ibuku. Kau adalah wanita yang kuat yang pernah ku temui. Karena kau mampu menghadapiku dengan sabar, kau mampu mengerti keadaanku dan kau mampu menjadi ibu yang hebat bagi anak-anakku, jadi aku tak akan mengijinkan rasa bersalah menghantam dirimu termasuk kesedihan yang akhir-akhir ini selalu menghampirimu.” Dan di akhir ucapannya dia memberikan kecupan singkat di dahiku.
Aku terdiam dengan perlakuannya. Aku merasakan hawa sejuk dan hangat menyelimutiku. Suamiku, Min Yoongi yang dikenal dingin dan blak-blakan, kini terlihat begitu hangat dan bijak.
“Mau ikut denganku?”
“Kemana?”
“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu,” dia menarikku ke dalam ruang kerjanya, studio mini di rumah kami.
Sesampainya di depan layar kerjanya, dia menyuruhku untuk duduk di pangkuannya.
“Aku bisa duduk sendiri,” protesku.
“Begini lebih baik.” dia menarikku hingga aku terduduk di atas pangkuannya.
“Pakai ini,” dia memakaikan Headphone kepadaku. Tangannya bermain dengan mouse dan terus menggerakkan jarinya, menekan-nekan tombol mouse, hingga sebuah lagu terdengar di telingaku.
Lately i’ve been thinking
Thinking about what we had
And i know it was hard
It was all we knew, yeah~
Haeve you been drinking
To take all the pain away?
I wish that i could give you what you deserve
Cause nothing can ever, ever replace you
Nothing can make me feel like you do, yeah
You know there’s no one, i can relate to
I know we won’t find find a love that’s so true
There’s nothing like us
There’s nothing like you and me
Together trough the strom
There’s nothing like us
There’s nothing like you and me, together, oh~
-Nothing Like Us, JB-
“Yoongi-ah,” aku menatapnya, sekali lagi aku di buat speechless olehnya. Dia menoleh ke arahku dan tersenyum. Tangannya lantas menangkup wajahku, dan mendekatkan wajahnya ke arahku, lalu meraih bibirku, dan mengecupnya sepintas.
“Kau tahu, tidak ada yang seperti kau Hana-ya, dan kau telah membuat aku yang semula seorang diri berubah menjadi kita, aku, kau, dan anak-anak menjadi kita.”
“Yoongi-ah,” aku menatap matanya, lalu kembali meraih bibir manisnya. Melumatnya sebentar, sekedar menyalurkan rasa yang terlalu memenuhi hatiku ini. Rasa sayangku padanya.
Terimakasih Yoongi-ah, kau telah menjadi suami, sahabat, dan ayah yang hebat. Aku sungguh tak menyesal mengenalmu bahkan mencintaimu.
END
Sorry guys lama bgt updatenya. soalnya kerjaan lg banyak bgt plus pasien yang akhir-akhir luar biasa.
Sekali lagi maaf ya, dan maaf juga kalo gak ngefeel.

Read More

NOTHING LIKE US

  No comments
15:00:00

Author : Yeonhwa
Cast : Min Yoongi (Suga BTS), Jung Hana (OC)
Genre : Marriage life, Fluff (little)
Rated : G
Lenght : Ficlet
Disclaimare : Suga and other BTS member belongs to God, but storyline and OC belongs to me.
I hate plagiarism so don’t copy paste!
Happy reading ^^
.
.
.
Hampir satu bulan semenjak musibah itu, satu bulan sudah aku tak lagi bersama dia. Eomma merindukanmu sayang. Ku tatap langit yang telah memekat malam ini. Hitam dan gelap, tak ada yang bisa ku lihat di sana kecuali tiga bintang yang berkelipan di sana. Ya, tiga, aku sempat menghitungnya tadi.
“Hana-ya, sedang apa malam-malam begini?” Yoongi menyelimutiku dari belakang.
“Aku hanya ingin menghirup udara segar,” jawabku.
“Apa ada yang kau pikirkan hm?” dia melingkarkan tangannya ke pinggangku, lalu meletakkan dagunya di pundakku.
“Aku merindukannya, ha~” ucapku diikuti hembusan nafasku yang berat.
“Dia sudah bahagia di sana, dan aku rasa jika dia tahu kalau eomma-nya terus bersedih dia juga akan ikut sedih.” Jelasnya.
“...” aku hanya bisa terdiam. Sebagai seorang ibu yang baru saja kehilangan calon anaknya, aku rasa wajar jika aku merindukannya.
“Hei!” Yoongi membalikkan tubuhku agar menghadapnya, matanya menulusuri setiap lekuk wajahku, begitu pula aku yang dengan serius menatap matanya, mata sipit yang selalu terlihat tulus itu. Tangannya terulur mengusap wajahku, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahku lalu menyelipkannya ke belakang telingaku. Ibu jarinya mengusap pipiku dengan lembut, seolah memberikan kehangatan tersendiri bagiku yang terlihat kedinginan ini.
Aku tak bisa berkata apa-apa, hanya mampu menatapnya di balik cahaya lampu teras rumah yang sedikit meredup. Semakin aku menatapnya, semakin aku merasa bersalah karena kejadian itu. sekuat mungkin ku tahan agar mataku tak mengalirkan sungai bening di pipiku.
“Kau tahu Hana-ya,” dia memulai perkatannya dengan nada yang lirih, hingga terdengar seperti bisikkan bagiku, aku mengedipkan mataku, bermaksud untuk memfokuskan diriku padanya. Tangannya terulur mengenggam tanganku. “Kau adalah wanita hebat yang pernah ku temui setelah ibuku. Kau adalah wanita yang kuat yang pernah ku temui. Karena kau mampu menghadapiku dengan sabar, kau mampu mengerti keadaanku dan kau mampu menjadi ibu yang hebat bagi anak-anakku, jadi aku tak akan mengijinkan rasa bersalah menghantam dirimu termasuk kesedihan yang akhir-akhir ini selalu menghampirimu.” Dan di akhir ucapannya dia memberikan kecupan singkat di dahiku.
Aku terdiam dengan perlakuannya. Aku merasakan hawa sejuk dan hangat menyelimutiku. Suamiku, Min Yoongi yang dikenal dingin dan blak-blakan, kini terlihat begitu hangat dan bijak.
“Mau ikut denganku?”
“Kemana?”
“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu,” dia menarikku ke dalam ruang kerjanya, studio mini di rumah kami.
Sesampainya di depan layar kerjanya, dia menyuruhku untuk duduk di pangkuannya.
“Aku bisa duduk sendiri,” protesku.
“Begini lebih baik.” dia menarikku hingga aku terduduk di atas pangkuannya.
“Pakai ini,” dia memakaikan Headphone kepadaku. Tangannya bermain dengan mouse dan terus menggerakkan jarinya, menekan-nekan tombol mouse, hingga sebuah lagu terdengar di telingaku.
Lately i’ve been thinking
Thinking about what we had
And i know it was hard
It was all we knew, yeah~
Haeve you been drinking
To take all the pain away?
I wish that i could give you what you deserve
Cause nothing can ever, ever replace you
Nothing can make me feel like you do, yeah
You know there’s no one, i can relate to
I know we won’t find find a love that’s so true
There’s nothing like us
There’s nothing like you and me
Together trough the strom
There’s nothing like us
There’s nothing like you and me, together, oh~
-Nothing Like Us, JB-
“Yoongi-ah,” aku menatapnya, sekali lagi aku di buat speechless olehnya. Dia menoleh ke arahku dan tersenyum. Tangannya lantas menangkup wajahku, dan mendekatkan wajahnya ke arahku, lalu meraih bibirku, dan mengecupnya sepintas.
“Kau tahu, tidak ada yang seperti kau Hana-ya, dan kau telah membuat aku yang semula seorang diri berubah menjadi kita, aku, kau, dan anak-anak menjadi kita.”
“Yoongi-ah,” aku menatap matanya, lalu kembali meraih bibir manisnya. Melumatnya sebentar, sekedar menyalurkan rasa yang terlalu memenuhi hatiku ini. Rasa sayangku padanya.
Terimakasih Yoongi-ah, kau telah menjadi suami, sahabat, dan ayah yang hebat. Aku sungguh tak menyesal mengenalmu bahkan mencintaimu.
END
Sorry guys lama bgt updatenya. soalnya kerjaan lg banyak bgt plus pasien yang akhir-akhir luar biasa.
Sekali lagi maaf ya, dan maaf juga kalo gak ngefeel.

Read More

LOST

  No comments
14:57:00

Author : Yeonhwa
Cast : Min Yoongi (Suga BTS), Jung Hana (OC)
Genre : Marriage life, Fluff (little)
Rated : G
Lenght : Ficlet
Disclaimare : Suga and other BTS member belongs to God, but storyline and OC belongs to me.
I hate plagiarism so don’t copy paste!
Happy reading ^^
.
.
.
HANA POV
“Eomma~, aku mau membantu juga~,” rengek nyunsik sambil menunjuk ke arah sekop kecil yang sedang ku pegang.
“Boleh, Hyunsik bantu mengaduk ini ya,” aku menyodorkan sebuah pot yang berisi tanah dan pupuk yang belum ku campur.
Bocahku mengangguk girang, dengan semangat dia mengaduk campuran tanah-pupuk yang ku berikan. Untungnya kali ini Hyunsik benar-benar membantuku.
“Selesai!” celotehnya riang setelah seluruh pot terisi oleh campuran tanah. “Selanjutnya apa eomma?” tanyanya, rupanya dia sangat antusias dengan berkebun.
“Selanjutnya taruh pot-pot ini di sana.” Ucapku sambil menunjuk ke arah deretan bunga-bunga yang baru saja aku semaikan.
“Oke~,” tangan mungilnya mengangkat pot kecil itu satu persatu. Aku mengawasinya dari sini. Tumben sekali dia membantu dengan baik dan benar.
“Eomma ini apa?” tangan kanannya memegang seekor cacing tanah, dan,
“YA! BUANG SAYANG!” aku menghampirinya,”Itu cacing, biarkan dia pulang, rumahnya ada di tanah. Dan eomma geli dengan cacing, CEPAT BUANG!” aku tak tahan lagi, memang aku sangat geli dengan makhluk kenyal penghuni tanah lembab itu.
“Kenapa? Ini kan lu- KYAAAA EOMMAAAA CACINGNYA!” Dia menjerit ketakutan ketika cacing yang dia pengang melilit jari telunjuknya. Tangannya dia kibas-kibaskan hingga cacing itu terjatuh ke tanah.
“Nah, sekarang ayo cuci tangan,” aku menuntunnya ke arah keran air yang tak jauh dari teras rumah. Dengan sabar ku bersihnya tangan dan kakinya yang belepotan dengan tangah.
“Ah~” aku mengaduh pelan, perutku terasa sakit. Sementara jagoanku masih terdiam asik dengan perlakukan yang ku berikan.
“SAMCHEON...IMO...!” Hyunsik berlalu ketika matanya melihat dua adik kesayangnaku.
“PELAN-PELAN SAYANG, AH!” BRUK! Aku ambruk dan tersungkur.
“NUNNAA...!”
“EONNIII...!”
Aku masih mendengar teriakan dari Jungkook dan Yoonri, tapi aku terlalu fokus dengan perutku. Ku pengangi perutku, berharap makhluk mungilku baik-baik saja.
“Nunna,” Jungkok membatuku berdiri.
“HUWAAA EOMMA...!” tangan Hyunsik memecah. Dia menjerit melihatku terjatuh tadi.
“Cup...cup...sayang, eomma tidak apa-apa, ayo kita masuk.” Aku melihat Yoonri menggendong Hyunsik yang masih sesenggukkan.
“Ah~” aku merintih lagi, baru saja aku berjalan tiga langkah tapi sakit di perutku semakin hebat. Eomma mohon sayang, bertahanlah.
“Eomma~, eomma berdarah imo~, HUWEEEEE...!!!” Hyunsik kembali menangis.
“ASTAGA JUNGKOOK-AH!” Yoonri memekik melihat bagian belakang bajuku terdapat bercak darah.
“KITA HARUS KE RUMAH SAKIT SEKARANG! AMBILKAN KUNCI MOBIL YOONGI HYUNG!” dengan sigap kekasih dari adik iparku ini membawaku ke rumah sakit.
Aku sendiri sudah tak memperdulikan apapun, bahkan aku memasrahkan Hyunsik pada Yoonri, pikiranku sekarang terfokus pada calon bayiku.
“Sebentar lagi nunna, bersabarlah,” Ucap Jungkook sambil mengemudikan mobil. Aku sendiri tidak tahu sejak kapan dia bisa menyetir. Dan untungnya Yoongi tidak menggunakkan mobilnya hari ini.
.
.
.
.
YOONGI POV
“Dimana Hana?” aku masih terengah-engah. Pikiranku begitu kacau. Sejak semalam Hana terus mengeluh kalau perutnya sakit, dan semalaman juga aku tidak bisa tidur nyenyak karenanya.
“Masih di dalam hyung,” ucap Jungkook.
Aku berdiri di depan pintu kamar operasi. Jungkook dan Yoonri bercerita kalau dokter terpakasa harus mengambil tindakan Curretage and Dilatation (D&C) demi meyelamatkan rahim Hana. Aku melirik Hyunsik sudah terlelap di pelukan Yoonri, dia terlalu lelah menangisi eomma­-nya. Ha~, ku hembuskan nafasku kasar, ku usap wajahku. Tuhan, cobaan apa lagi ini?
“Suami Nyonya Jung Hana?” seseorang yang aku rasa dokter, memanggilku, suami Hana.
“Ya saya,” aku melangkah maju menghampiri pria berbaju hijau tosca yang baru saja keluar dari ruang operasi.
“Maafkan saya, tapi saya harus mengambil tindakan ini demi keselamatan istri anda. Eum, tuan, apakah sebelumnya istri anda pernah mengeluh sakit perut selama dia hamil?” tanyanya.
“Iya dok, dia sering mengeluh sakit dan katanya perutnya berkontraksi terlalu kencang.” Jelasku.
“Ya, itu karena ada sedikit masalah pada kehamilannya. Kontraksi yang demikian disebut kontraksi dini, namun saya rasa istri anda mengalami kontraksi dini dan disertai dengan bercak darah, apakah istri anda menceritakannya pada anda?”
“Tidak, dia tidak bercerita apapun selain kontaksi yang membuatnya sakit.” Aku lemas seketika mendengar penjelasan dokter, sungguh aku suami yang bodoh, aku bahkan tidak tahu kalau istriku sedang mengalami masa-masa sulitnya yang benar-benar mengancam jiwa calon bayi kami.
“Saya harap setelah ini, nyonya Jung bisa sehat kembali, saya permisi dulu,” pamit sang dokter dan tak jauh dibelakangnya istriku menyusul dengan tiga orang perawat yang mendorong bed-nya.
Dengan sisa tenaga yang ada aku mengekor rombongan. Ku kuatkan diriku sebisa mungkin, karena aku ingin menguatkan Hana yang sudah bisa kupastikan dia akan meraung sedih setelah ini.
“Maafkan aku Hana-ya,” aku menggenggam erat tangan istriku yang masih terlelap karena pengaruh bius.
“Eung~,” lenguhnya.
“Sayang~,” aku mengucapkan kata-kata langka yang memang jarang aku ucapkan untuknya, ku elus pucuk kepalanya, ku kecup punggung tangannya.
“Maaf,” lirihnya, lalu bulir bening menetes dari matanya.
Ku ulas senyum, ku kecup keningnya. “Untuk apa minta maaf? Justru akulah yang harusnya meminta maaf.”ku hapus aliran sungai di pipinya dengan kedua ibu jariku. Dia menggeleng menanggapi perkataanku.
“Maaf, karena aku tidak bisa menjaganya dengan baik,” ucapnya lemah.
Ku tatap matanya lekat-lekat. Oh Tuhan, kenapa aku begitu bodoh, seharusnya dulu aku tak mengambil jadwalku yang begitu padat, tapi lihat sekarang, dia harus menanggung sakit karenaku.
“Maafkan aku Hana-ya, seharusnya aku berada di sampingmu, harusnya akulah yang meminta maaf. Kau tak salah, akulah yang salah. Harusnya aku tidak mengambil jadwalku yang begitu padat. Harusnya aku menemanimu melewati saat-saat sulitmu. Maafkan aku sayang~” CUP, aku mencium keningnya. Ku rengkuh tubuh lemahnya dalam pelukanku. Membiarkan dia membagi bebannya denganku saat ini, meski terlambat.
END

Read More

DOCTOR HYUNSIK

  No comments
10:29:00

Author : Yeonhwa
Cast : Min Yoongi (Suga BTS), Jung Hana (OC)
Genre : Marriage life, Fluff (little)
Rated : G
Lenght : Ficlet
Disclaimare : Suga and other BTS member belongs to
God, but storyline and OC belongs to me.
I hate plagiarism so don’t copy paste!
Happy reading ^^
.
.
.
“Bagaimana kondisinya dok?” Suamiku terlihat sangat
khawatir dengan kondisiku.
“Duduklah tuan,” dokter itu mempersilahkan Yoong untuk duduk, sementara aku masih sibuk membenahi pakaianku.
Aku dan Yoongi memutuskan untuk berkunjung ke dokter kandungan yang menanganiku sejak awal aku hamil Hyunsik. Ini adalah kunjungan yang ketigaku dalam waktu satu bulan. Entahlah, semakin ke sini perutku semakin tak enak. Mualku pun terkadang datang dan pergi namun yang jelas kontraksi tak wajar di perutku semakin ku rasakan. Karena itulah Yoongi mengajakku untuk memeriksakan kandunganku. Khawatir dengan kondisi calon adik Hyunsik.
“Saya menyarankan istri anda untuk bedrest total.
Kandungannya cukup lemah untuk sekarang ini. Saya
khawatir jika dia memaksakan diri untuk tetap
beraktivitas kandungannya akan kalah.” Papar dokter
yang bisa ku dengar dengan sangat jelas. Aku melihat
Yoongi yang menganggukan kepala.
“Ini resepnya dan jika ada sesuatu segera bawa istrimu kemari,” lanjut dokter.
“Terimakasih, ayo,” Yoongi mengamit lenganku,
memapahku yang sedikit lemas.
Kami berjalan menuju loket pengambilan obat. Aku duduk di bangku tunggu bersama dengan Hyunsik, dia masih asik dengan mainan barunya. Ku elus perutku ada sedikit nyeri yang kurasakan.
“Sayang, eomma mohon bertahanlah,” aku berbisik pada makhluk yang sang berjuang diperutku.
“Ayo kita pulang.” Ajak Yoongi setelah mendapatkan
sepaket obat-obatan yang harus aku minum.
.
.
.
“ Eomma~ , Hyunsik periksa dulu ya~” celoteh jagoanku dengan mainan dokter-dokteran di tangannya. Dia bermain peran menjadi dokter yang merawatku.
“ Eomma tiduran~,” perintahnya lagi, dan akupun
menurut, toh bermain dengannya kali ini tidak
memerlukan aktivitas fisik yang berat, cukup tiduran di atas kasur. Tangan mungulnya menempelkan stetoschope mainannya ke dada dan perutku. Berlagak seolah dia mendengar detak jantungku dan pernafasanku.
“Adik bayi, jangan nakal sama eomma ya, kasihan eomma kan jadi sakit~,” jemarinya mengusap perutku,
membuatku tersenyum dan sedkit terharu.
“ Eoh ~, ada dokter Hyunsik. Jadi eomma sakit apa
dokter?” Yoongi ikut menimbrung.
“ Eomma harus banyak tidur appa, dan adik bayi juga
harus istirahat biar eomma sehat. Eomma , ini obatnya, ha-rus-di-mi-num.” Lagi, jagoanku berceloteh dengan penekanan penuh pada akhir kalimatnya.
“Uhuk...” aku sedikit tersedak, ah~ obatnya besar sekali dan pahit.
“Pelan-pelan eomma~ ,” Hyunsik menepuk-nepuk
punggungku.
“ Cha~ ,Hyunsik jaga eomma dulu ya, appa mau beres-
beres.” Perintah Yoongi, tangannya mengacak pucuk
kepala bocah itu, “Dan kau, kau tidak boleh beranjak
dari sini. Jika perlu apa-apa panggil aku, mengerti?”
titahnya lagi, dan aku mengangguk.
“ Nde~ ,” ucapku.
Seharian berada di atas kasur membuatku bosan.
Kuputuskan untuk berpindah ke ruang tegah, menonton
televisi mungkin bisa membunuh rasa bosanku. Ku
dudukkan diriku di atas sofa lalu ku sandarkan
punggungku , ah~ sungguh nikmat. Ya lebih baik begini
dari pada harus terus berbaring di atas kasur.
“ Eomma~ kenapa di sini?” Hyunsik berlari ke arahku
lantas tangan kanannya terulur menyentuh dahiku setelah itu dia kembali memeriksaku dengan stetoschope -nya.
“Ah, eomma sudah tidak sakit?” tanyanya.
“ Eoh~ , eomma sudah sedikit membaik, sudah tidak apa-apa.” Aku mengenggam tangan mungilnya. Lalu tangan kirinya kembali terulur dan mengusap perutku.
“Adik bayi tidak nakal kan?” tanyanya polos.
“Adik bayi sudah tidak nakal lagi sayang,” aku mengelus kepala jagoanku lalu mencium keningnya.
“Apa eomma lapar? Appa sedang masak loh~,”
“ Eoh , apaa? Memasak?” aku menoleh kearah dapur dan errr, pemandangan buruklah yang tertangkap oleh
mataku. Oh Tuhan, apa Yoongi mengacaukan dapurku?
END
Maaf banget ini bener-bener gak ngefeel. Soalnya aku
juga lagi buntu kudu nulis kaya gimana lagi. Ini cuman
selingan aja. Iseng daripada bengong dan bingung. Sekali
lagi maaf ya kalau gak ngefeel.

Read More

MISS YOU

  No comments
09:56:00


Author : Yeonhwa
Cast : Min Yoongi (Suga BTS), Jung Hana (OC)
Genre : Marriage life, Fluff (little)
Rated : G
Lenght : Ficlet
Disclaimare : Suga and other BTS member belongs to
God, but storyline and OC belongs to me.
Sorry for typo(s) and I hate plagiarism so don’t copy
paste!
Happy reading ^^
.
.
.
.
Hujan masih mengguyur. Hawa dingin mulai menusuk ke tubuhku. Ku ambil selimut dan ku bungkus tubuhku dengan selimut berwarna coklat itu. Tanganku mengelus perutku yang sudah membuncit.
“Apa kau tak merindukan appa hm~?” aku bermonolog
dengan calon bayiku.
“Ha~” helaan nafas panjang mengakhiri perbincangan
kami, aku dan calon bayiku. Mataku beralih melirik jarum jam yang masih berputar. Pukul sembilan malam. Segera kuhabiskan susu hangat yang sedari tadi tergeletak di atas meja, lalu berpindah tempat ke kamar tidurku.
“Tidur yang nyenyak ya sayang~” CUP~ aku mencium
kening jagoanku yang sudah lebih dulu terlelap.
Kusandarkan punggungku ke headboard ranjang. Tanganku terulur mengambil sebuah novel yang selalu menjadi pengantar tidurku. Mataku memang menghadap ke rententan huruf yang terketik rapi di buku yang kupegang, namun tak sedikitpun kalimat yang bisa ku cerna. Pikiranku benar-benar terfokus pada seseorang yang sangat kurindukan. Min Yoongi, suamiku, ayah dari anak-anakku, aku sangat merindukannya saat ini.
Aku memperhatikan sejenak ponsel yang tak jauh dariku. Ku ambil benda berbentuk persegi empat itu, ku usap layarnya, berharap ada sebuah pesan atau panggilan masuk. Namun nihil. Hanya ada fotoku dan kedua jagoanku, tak ada notifikasi apapun di sana.
“Aku merindukanmu Yoongi-ya~” lirihku. Tak seperti
biasanya, kali ini aku benar-benar merindukannya.
Padahal di awal kehamilanku aku justru merasa enggan
untuk berdekatan dengannya. Lima hari sudah dia pergi, demi pekerjaannya, demi para fansnya, demi menghibur orang-orang yang telah menunggunya. Aku maklumi itu.
Ku pendam rasa rinduku ini, mataku mencoba untuk
terpejam, dan berusaha untuk memasuki alam mimpi.
Berharap ayah dari anak-anakku bisa hadir di sini.
.
.
.
.
Angka lima dan dua angko nol, itulah yang ku tangkap
dari mataku. Pukul lima pagi, aku terbangun sepagi ini. Ku langkahkan kakiku menuju dapur, segelas air membasahi kerongkonganku yang kering. Ku buka kulkas, ah~ masih ada beberapa sayuran dan juga bahan-bahan lain yang masih bisa ku masak. Ku putuskan untuk berjalan-jalan sebentar di lingkungan sekitar, mumpung Hyunsik belum bangun.
“Udara pagi memang menyegarkan! Ha~” aku menghirup udara segar pagi sebanyak yang ku mau, lalu
menghembuskannya kuat-kuat, rasanya segar sekali.
“Cha~ ayo kita olah raga!” aku mengelus perutku lalu ku ajak dia berolah raga pagi, tepatnya jalan-jalan pagi.
Cukup tiga puluh menit aku menghabiskan pagiku dengan berolah raga, dan cukup membuat tubuhku berkeringat.
“Ah, segarnya!” ucapku selesai meneguk segelas air.
“Kau sudah pulang?”
“Eum~” aku mengangguk. Tunggu dulu, suara itu, suara
orang yang sangat ku rindukan.
“Kau!” aku memekik kaget, sementara orang yang
kurindukan itu justru sedang asik sendiri di sofa dengan laptop serta headphone-nya.
“Kau habis dari mana saja?” tanyanya.
“Sejak kapan kau ada di sini?” tanyaku balik.
“Sejak kau keluar tadi.” Jawabnya enteng.
Hatiku yang terlalu merindukannya menuntun kakiku
untuk mendekatinya. Ku peluk erat tubuhnya, ku
tenggelamkan kepalaku di lehernya. Menghirup aroma
yang ku rindukan.
“Ya! Apa yang kau lakukan?” protesnya.
CUP~ Aku mengecup leher putihnya. “Aku sungguh
merindukanmu.” Ucapku lalu kembali menenggelamkan
wajahku.
“Tsk! Ini masih pagi Hana-ya,” ku dengar dia tertawa.
Aku meloanggarkan pelukanku, ku jauhkan wajahku
darinya. Dia pun berbalik menaghadapku lantas
tersenyum, senyum yang manis, senyum yang selalu ku
rindukan.
CUP~ dia mencium bibirku sekilas, “Aku juga merindukan kalian, kau, Hyunsik, dan dia,” ucapnya sambil mengusap perutku. “Maafkan appa sayang, appa harus bekerja meningalkan kalian. Apa kau baik-baik saja? Apa kau makan dengan baik? Kau tak membuat eomma -mu kesusahan kan?” dia mengajak makhluk yang ada di perutku ini berbicara.
Aku tersenyum melihatnya. Sungguh dia sangat lucu,
manis, dan menyebalkan. Dia tega meninggalkan ku dan
membiarkanku harus menanggung rindu yang teramat
sangat.
“Aku makan dengan baik appa~ , aku juga tidak menyusahkan eomma~ ,” aku menjawab pertanyaannya
dengan nada yang kubuat-buat.
Dia menatapku, “Benarkah kau sudah bisa makan? Mual-mualmu?”
“Sudah lebih baik, aku juga sudah bisa memasukkan
beberapa makanan, meski harus sedikit-sedikit,”
“Perlahan saja, yang penting ada makanan yang masuk ke perutmu,”
“Ah, kau mau sarapan apa? Biar ku buatkan.” Tawarku.
“Terserah kau saja, yang penting berkuah dan hangat,”
“Baiklah, tunggu sebentar aku akan memasakkannya” aku
berlalu darinya menuju dapur membuatkan makanan yang dia minta.
“Hana-ya,” panggilnya dengan tangan yang melingkar di pinggangku.
“Hm~”
“Terimakasih,” ucapnya.
“Untuk?”
“Semuanya, terimakasih, atas semuanya,” ucapnya yang membuatku menoleh ke arahnya. Sebuah senyumanpun kembali dia berikan.
Terimakasih Tuhan, Kau telah memberiku suami seperti Yoongi, seseorang yang penyayang dan sabar. Terimakasih Tuhan.
END

Read More