Can You See My Heart?

  No comments
11:01:00

Can You See My Heart? 

Cast : Lee Sung Min
Park Hyun Yoong
Others.....

Rating : PG-15
Length : One Shoot
 Genre : Romance.


Author : Kyu_

Summary : Kehidupan rumah tangga dari seorang gadis buta bernama Hyun Yoong benar-benar tak se-bahagia yang dia bayangkan. Suami nya, Lee Sung Min tak pernah bersikap sayang padanya. Bahkan terkesan sangat canggung. Akankah Rumah Tangga Hyun Yoong dan Sungmin akan terus seperti itu? Hanya Author dan Tuhan yang Tahu.

*****

[Author PoV]

Hari ini adalah hari yang cukup biasa bagi sebagian orang di luar sana, namun tidak akan menjadi biasa bagi sepasang anak manusia yang sedang mengikat janji di atas altar itu. setelah hari ini, status mereka bukanlah lagi sebagai seorang bujangan, melainkan sepasang suami-istri. Suami-Istri yang berjanji setia di depan Tuhan dan juga semua tamu yang melihat mereka sekarang.

“Lee Sung Min-ssi, sekarang bukalah tudung istrimu~”, Ujar sang pendeta dengan menyunggingkan senyuman khas nya.

Pria bernama Sungmin tadi lekas menuruti perintah sang pendeta, dan membuka Tudung yang menghiasi kepala yeoja yang sudah sah menjadi istrinya tersebut. Dibukanya perlahan tudung tadi, dan kini terpampanglah wajah seorang yeoja yang sebenarnya tak terlalu dikenalnya, yeoja itu tampak tersenyum bahagia. Sungmin memegang pundak Yeoja dihadapannya, lalu kemudian mulai mendekatkan wajahnya ke wajah sang Yeoja.

Chup~!

Seperti pasangan pengantin lainnya, Sungmin memberikan ciuman di bibir Yeoja yang sudah menjadi istrinya itu, sebenarnya tak bisa dibilang ciuman, karena Sungmin hanya menempelkan bibirnya singkat dengan bibir yeoja itu. Dan semua tamu undangan, segera memberikan tepuk tangannya untuk 2 orang pasangan baru tadi.

-----

3 Month Later~

Matahari pagi mulai menyinari kamar tempat seorang namja yang tengah tertidur dengan pulas. Namun, karena sinar yang terlalu menusuk matanya, akhirnya membuat sang Namja tadi terbangun. Namja tersebut adalah Sungmin. Perlahan-lahan ia kerjap-kerjapkan matanya, dan mulai bangkit dari posisi tidurnya, Sungmin melirik ke samping kanannya, ternyata sudah kosong. Sungmin pun segera mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi.

-----

Setelah siap dengan pakaian kantornya, Sungmin segera keluar dari kamar. Di ruang tamu yang juga bisa menjadi ruang makan itu, sudah ada seorang yeoja yang tengah sibuk menyiapkan Roti bakar. Kelihatan sekali Yeoja itu tengah mengoleskan selai pada roti yang ada di tangannya.

Sungmin berniat segera keluar dari rumah, namun suara yeoja tadi sedikit menghalangi langkahnya.

“kau, sudah akan berangkat Sungmin-ssi?”, Ujar Yeoja tadi, dengan sedikit meraba-raba Yeoja itu kelihatan menaruh Roti yang sudah siap ke dalam sebuah tempat makan kecil berwarna silver.

“Ne”, Jawab Sungmin singkat.

“Aku membuatkanmu bekal makanan sebisa ku..... Karena setiap hari kau tak pernah sarapan jadi aku membuatkanmu ini”, Yeoja tersebut mengambil Wadah yang sudah diisinya dengan roti tadi, dia kemudian mencoba memberikan bekal itu ke Sungmin, namun arah tangannya tak tepat pada Sungmin, melainkan ke sisi yang lain.

Sungmin melihat ke yeoja itu, dan mengambil bekal makanan yang diberikannya, “aku pergi dulu Hyun Yoong-ssi”, Ujar Sungmin dengan nada dingin khas nya.

“Ne...”, Yeoja yang bernama Hyun Yoong itu tersenyum, dan melambaikan tangan, niat nya mungkin ke arah Sungmin, namun karena keterbatasan yang ia miliki, Hyun Yoong malah melambaikan tangan ke arah lain.

Ceklek~!

Suara pintu Apartement yang ditutup oleh Sungmin.

Hyun Yoong kemudian mencoba meraih tongkatnya yang tak jauh darinya, kemudian berjalan ke beranda Apartementnya, “Hana, Dul, Set, Net, Ilyeot, Ilgeop......”, Hyun Yoong menghitung langkah kakinya karena tak ingin salah masuk ke ruangan lain.

-----

Sungmin sampai di kantornya, dia kemudian segera duduk di kursi kebesarannya, Sungmin menaruh tas yang dibawanya di atas meja, dan mengeluarkan beberapa Map yang ada di dalamnya, tapi di dalam tas itu Sungmin juga melihat bekal silver yang tadi sudah dibuatkan oleh istrinya – Hyun Yoong -.

Sungmin mengeluarkan bekal itu, dan menaruhnya di meja. Entah kenapa saat melihat bekal itu, Sungmin jadi teringat akan masa lalunya saat ia pertama kali dijodohkan dengan Hyun Yoong.

~Flash Back On~

“Gadis itu bernama Park Hyun Yoong, berusia 25 tahun”, Ujar Pria paruh baya yang kini sedang duduk berhadap-hadapan dengan Sungmin, “pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan, dan tidak akan ada penundaan”

“Aku baru saja sembuh dan baru memulai aktifitasku, kenapa Abboeji tiba-tiba membicarakan mengenai perjodohan?”, Sentak Sungmin dengan nada yang masih dibilang normal. Karena, sejujurnya dia cukup terkejut dengan keputusan Ayahnya.

Ayah Sungmin hanya meneguk secangkir coffe hangat yang sudah disiapkan pelayan, dan kemudian menatap mata Sungmin tajam, “sudah saatnya kau memiliki pendamping~! Kuharap kau tak mengecewakan Abboeji dan Ibumu~!”, Ayah Sungmin melihat ke arah belakang badan Sungmin, ternyata Hyun Yoong dan kedua orang tua nya sudah datang, “Annyeonghasimnika~”, Sapa Ayah Sungmin untuk Hyun Yoong yang ditemani kedua orang tuanya.

Sungmin menoleh ke belakang, dan dilihatnya seorang yeoja yang memiliki paras cukup cantik, berjalan di tengah dua orang manusia paruh baya, namun anehnya yeoja itu berjalan sangat pelan dengan menggunakan tongkatnya, dan di tangan kirinya tampak di tuntun oleh Ayahnya.

“Maaf karena menunggu lama~”, Ujar Ibu Hyun Yoong.

Ayah Hyun Yoong membantu Hyun Yoong duduk dengan mengarahkan Hyun Yoong ke kursinya, Sungmin terus memperhatikan mereka. Dan barulah Sungmin sadari, ternyata Hyun Yoong adalah seorang Tuna Netra.
“Kenapa Abboeji menjodohkanku dengan gadis seperti ini?”, Pikir Sungmin dalam benaknya.

~Flash Back End~

Sungmin menghembuskan nafas beratnya, tapi kemudian memilih untuk lebih konsentrasi pada pekerjaannya.

-----

Hyun Yoong duduk diam di beranda Apartementnya, Hyun Yoong meraba jam tangannya yang khusus untuk orang buta tersebut, “jam 9 pagi~!”, Hyun Yoong segera meraih tongkatnya, dan berjalan menuju ke pintu, “Hana, dul...”, seperti biasa, Hyun Yoong menghitung langkahnya, “sampai~!”, Ujarnya setelah tepat sampai di depan pintu.

Beberapa saat kemudian Hyun Yoong mendengar suara bel yang dipencet dari luar rumah.

“Ahjumma~!”, Hyun Yoong memencet tombol merah yang ada di samping pintunya, dan meneriakkan nama seseorang.

“Hya~! Cepat buka pintunya~”, Suara seorang laki-laki dari balik pintu. Hyun Yoong mengenal suara itu, ia pun tersenyum dan membuka kunci dari pintu tersebut. Dari luar, munculah seorang namja berbadan tak terlalu besar sambil membawa beberapa sayuran, “Aigoo~! Berani-beraninya kau memanggilku Ahjumma? Heol~!”, Cerca namja tadi.

“hahahaha...”, Tawa Hyun Yoong dengan keras, Hyun Yoong merasakan hanya ada 1 orang yang datang, “Yak~! Yesung-ah, mana yang lain?”, Tanya Hyun Yoong yang kini berjalan dengan sangat pelan.

Yesung – namja yang baru saja masuk – menaruh beberapa sayuran di dapur Hyun Yoong, “Donghae dan Kyuhyun sedang ada rapat pagi ini, Eunhyuk harus mengunjungi pabriknya yang ada di daerah Incheon. Dan Ryeowook sebentar lagi baru akan datang~ waeyo?”, Jelas Yesung dengan panjang lebar.

“Aniyo~! Hajiman, Jika hanya kau sendiri yang ada disini, lalu siapa yang akan memasak?”, Kata Hyun Yoong yang juga bisa dikatakan sindiran untuk Yesung.

“aish~! Naega, Yesung Imnida. Dokter tertampan yang sangat ahli memasak~!”, Ujar Yesung dengan bangga sembari mengangungkan dirinya sendiri.

“Omo~! Kuharap kau tak meracuni aku dan suami ku~”

“ish~ dasar cerewet”, Yesung mulai memotong-motong beberapa sayuran, “jadi, hari ini kau membuatkan Sungmin Hyung bekal, seperti rencana kita kemarin?”, Tanya Yesung penasaran.

“Ne, aku harap ia memakannya... biasanya setiap pagi, saat aku siapkan roti, ia tak pernah makan~”, Keluh Hyun Yoong dengan nada yang sangat memelas, “andaikan aku tidak buta, aku akan masakan sesuatu untuknya~
hajiman, jangankan memasak untuknya... memasak untukku sendiri pun tak bisa, setiap hari malah kalian yang kesini untuk membuat kan aku makanan”

Yesung berhenti memotong wortel, dan kini menatap Hyun Yoong yang sekarang sedang duduk di sofa, “Yak~! Kenapa kau jadi wanita pengeluh seperti itu hah?! Sudahlah, suatu saat nanti ia pasti tidak dingin lagi padamu~”

“Ne.....”

Ceklek~

Suara pintu yang terbuka, muncul seseorang dari pintu, “pintunya tidak terkunci~! Jadi aku membukanya sendiri”, Ujar Namja bertubuh kecil itu.

“akhirnya kau datang ryeowook-ah~!”, Kata Hyun Yoong dengan nada yang sangat gembira, “setidaknya aku bisa makan makanan dengan rasa manusia sekarang... hahahaha”

“Hya~”, Teriak Yesung kesal pada Hyun Yoong. Tapi, Ryeowook juga ikut tertawa seperti Hyun Yoong,  membuat Yesung mem pout kan bibirnya sambil men death glare mereka berdua.

-----

Sungmin akhirnya menyelesaikan pekerjaannya di kantor, di lihatnya bekal silver yang tak tersentuh sama sekali sejak pagi itu. Sungmin kemudian membereskan tas nya dan meninggalkan bekal itu di mejanya.

-----

Sungmin sampai di rumahnya, jam sudah menunjukan pukul 10 malam, Sungmin berharap Hyun Yoong tidak menunggunya lagi malam ini. Karena, semenjak mereka menikah Hyun Yoong selalu menunggu Sungmin, tak peduli apakah Sungmin pulang jam 12 malam atau mungkin tidak pulang sama sekali~!

Saat Sungmin membuka pintu, ternyata di ruang tamu tak ada Hyun Yoong, tumben sekali Hyung Yoong tak ada. Sungmin tak tahu apakah dia harus sedih atau bahagia sekarang. Dilihatnya ke meja makan, ternyata masih ada makanan disana, dan juga ada sebuah note, “Tolong makanlah... Maaf tidak bisa menunggumu”, Baca Sungmin dari Note itu. Note tadi sebenarnya di tulis oleh Ryeowook.

Sungmin menghembuskan nafas beratnya lagi, dan ia merasa tidak enak jika tak memakan makanan itu. Karena nanti makanannya bisa basi.

-----

Hari berganti hari lagi, dan kehidupan Rumah Tangga Sungmin dan Hyun Yoong tetap saja seperti itu. Sungmin yang berangkat kerja dari pagi, dan pulangnya terlampau malam. Tak pernah memakan makanan di rumahnya. Dan juga jarang bertegur sapa dengan Hyun Yoong.

“Sungmin-ssi”, Panggil Hyun Yoong saat Sungmin sudah bersiap untuk berangkat ke kantor.

“Ne?”

“Hari ini aku, Kyuhyun, dan Yesung akan mengecheck tempat yang akan kami gunakan untuk Project kami... Aku minta ijin keluar~”

“Ne..... Pergilah~”, Ujar Sungmin dengan dingin. Dan ia pun segera terburu-buru keluar dari apartemennya.

“Hati-hatilah dijalan, Sungmin-ssi”

-----

Hyun Yoong keluar dari mobil Kyuhyun dengan dibantu oleh Yesung. Yesung tampak membukakan pintu untuk Hyun Yoong dan membawakan tongkatnya. Kyuhyun juga lekas keluar dari mobilnya.

“ini adalah salah satu rumah yang cukup bagus untuk Project kita~”, Ujar Kyuhyun menjelaskan, karena dia lah yang mengusulkan tempat tersebut, “tak jauh dari keramaian, namun juga tak terlalu berisik~”

“apakah tempatnya nyaman?”, Tanya Hyun Yoong yang tak dapat melihat apapun.

“Ne.....”, Yesung menatap ke sekeliling, “sepertinya sangat cocok untuk penderita kanker yang butuh rumah istirahat dan ketenangan~”

“apakah banyak pohon disini? Aku merasa udaranya sangat segar”, Ujar Hyun Yoong dengan menarik nafasnya dalam-dalam, merasa udara sekitar yang jarang dirasakannya di apartement.

“ini daerah perbatasan Hyun Yoong-ah~ tentu saja sangat segar~”, Tambah Kyuhyun sambil tersenyum.

“Semoga, Project kita ini berhasil~”, Harap Yesung.

“Ne.... Pasti”,Sahut Hyun Yoong dengan senyum lebarnya dan penuh semangat, “Ah!”, Hyun Yoong tiba-tiba merasakan perih di Ulu hatinya.

“Hyun Yoong-ah, Gwaenchana?”, Khawatir Yesung dan Kyuhyun secara bebarengan, Yesung kemudian memeriksa nadi Hyun Yoong, “obatmu sudah kau minum kan semalam?”, Tanya Yesung dengan khawatir.

“Ne.....”

“Kau juga tak menunggu Sungmin Hyung kan?”, Tanyanya lagi.

“Aniyo~! Ah~! Ish~!”

“Sebaiknya kita langsung ke rumah sakit~”, Kyuhyun membuka kunci mobilnya dari jauh, dan kemudian membantu Yesung yang kini tengah menuntun Hyun Yoong

-----

Sungmin sampai di rumahnya, dan lagi-lagi Hyun Yoong tak ada di ruang tamu. Sungmin segera masuk ke kamarnya, ternyata Hyun Yoong sudah tertidur pulas disana. Jarang sekali selama dua hari berturut-turut Hyun Yoong tak menunggu Sungmin. Sungmin merasa sedikit kehilangan, “kenapa aku merindukannya?”, Lirih Sungmin sembari melihat Hyun Yoong yang tengah tertidur pulas.

-----

Sungmin bangun dari tidurnya, seperti biasa Hyun Yoong sudah bangun lebih dulu darinya. Kali ini Sungmin tak langsung pergi mandi, melainkan segera menuju ke ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang santai mereka. dan tentu saja Sungmin menemukan Hyun Yoong disana.

“Apa kau akan berangkat kerja sekarang Sungmin-ssi?”, Tanya Hyun Yoong yang menyadari keberadaan Sungmin.

“Aniyo~! Aku ingin libur hari ini”

“Libur?”, Hyun Yoong kelihatan sangat senang saat mendengar kalimat Sungmin tadi, karena selama hampir 3 bulan usia pernikahan mereka, baru kali ini Hyun Yoong akan seharian penuh di rumah bersama Sungmin. Biasanya, ia hanya bersama Sungmin beberapa menit saja di pagi hari, “hari ini sebenarnya aku harus pergi lagi, karena ada banyak urusan”

“ne, kau bisa pergi~”, Sungmin ingin mengatakan kalimat lain, tapi lidahnya terlalu keluh untuk mengatakannya. Ingin rasanya Sungmin menawarkan untuk mengantar Hyun Yoong, tapi lidahnya benar-benar terasa keluh saat akan mengatakannya.

-----

Hyun Yoong duduk sendirian di Beranda rumahnya, seperti biasanya, memang begitulah hobi Hyun Yoong karena tak ada aktifitas lain yang bisa dilakukannya. Sementara Sungmin mengawasi Hyun Yoong dari ruang tamu, matanya tak sekalipun berpindah dari Hyun Yoong. Ingin rasanya ia mendekat pada Hyun Yoong, tapi ego nya terlalu kuat untuk menggagalkan niat itu.

Ting Tong~ Bel Apartement mereka berbunyi, sepertinya ada tamu. Sungmin pun segera membukakan pintu untuk tamu itu. Saat pintu dibuka, munculah 2 orang namja yang berdiri sambil mententeng sebuah plastik besar yang entah apa isi di dalamnya, “Nugushimnika?”, Tanya Sungmin bingung.

“ah, noe.. Sungmin Hyung~! Aish~! Apa kau tak mengenalku? Eunhyuk imnida, aku datang di upacara perikahanmu dan Hyun Yoong dulu”, Ujar salah seorang dari namja tadi, yang berbadan ceking dan menenteng plastik besar putih di tangan kanannya.

“ah, Donghae Imnida”, Sapa namja yang satunya lagi.

Sungmin masih sedikit bingung, “kalian teman Hyun Yoong-ssi?”, Tanya Sungmin lagi, sambil membuka pintu lebih lebar, mempersilahkan mereka berdua untuk masuk

“ne~!”, jawab mereka berdua serempak.

“Siapa yang datang?”, Tanya Hyun Yoong yang kini berjalan mendekat ke Sungmin.

“Hyun Yoong-ah, mianhaeyo hari ini asistent rumah tangga ku tidak membeli sayur yang banyak... jadi, kami berdua membelikanmu fast food~!”, Ujar Eunhyuk santai, tanpa memperdulikan Sungmin yang masih agak kebingungan.

Hyun Yoong tersenyum, seperti mengetahui siapa yang kini sudah bertamu di rumahnya itu, “gwaenchanayo~”

“Yesung Hyung datang telat hari ini, karena pasien di rumah sakit sangat banyak... sepertinya semalam banyak yang keracunan makanan~”, Jelas Donghae, “Kyuhyun dan Ryeowook masih di bawah, entah apa yang mereka lakukan tadi~”

“Hyun Yoong-ssi....”, Panggil Sungmin.

“ah, Sungmin-ssi mianhaeyo... aku tidak pernah memberitahumu bahwa sahabat-sahabat ku sering datang kesini~”,
Ujar Hyun Yoong sedikit menyesal, “jika tidak sibuk mereka menemaniku disini, dan kadang memasak untuk kita~! Mianhaeyo”

“ne”, Sahut Sungmin, ia seperti mengerti jika Hyun Yoong kesepian. Dan entah mengapa Sungmin seperti menyesal karena selalu meninggalkan Hyun Yoong sendirian di rumah.

Donghae dan Eunhyuk kelihatan sangat dekat dengan Hyun Yoong, yah karena memang mereka sudah saling mengenal sejak SMP. Jadi bisa dibilang mereka sudah berteman akrab. Sungmin sendiri, hanya diam saja saat mendengar Donghae, Hyun Yoong, dan Eunhyuk bercanda bertiga di beranda.

Tak berapa lama, Kyuhyun dan Ryeowook datang. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk memakan makanan yang sudah dibeli oleh Eunhyuk tadi.

“sebenarnya aku hanya beli 6 bungkus, karena tidak mengira jika Sungmin Hyung di rumah... Tapi untungnya Yesung hyung tidak datang.. jadi, Sungmin Hyung bisa memakan jatah Yesung Hyung”, Jelas Eunhyuk sambil menyerahkan jatah untuk Sungmin.

“Gamshahamnida~”, Ujar Sungmin dengan kaku.

“ah, tadi di bawah Yesung Hyung menelfonku”, Ujar Kyuhyun sembari memakan makanannya, “sebaiknya setelah ini kita langsung pergi ke tempat kemarin... Yesung hyung akan langsung kesana”

“ah, boleh aku tahu kalian akan kemana?”, Tanya Sungmin yang memang daritadi sangat penasaran dengan arah pembicaraan mereka.

“kami akan ke rumah Istirahat~ itu adalah tempat yang sedang kami bangun.....”, Jawab Kyuhyun dengan antusias, “Hyung, kau mau ikut?”, Tawar Kyuhyun dengan wajah memohon pada Sungmin.

“Apakah boleh?”

“Tentu Saja!”, Jawab Eunhyuk dan Donghae berbarengan, dan penuh semangat.

“Ne, aku ingin ikut~”

Jawaban Sungmin barusan sontak membuat hati Hyun Yoong makin bahagia, pertama Sungmin yang membolos kerja hari ini saja sudah membuat hatinya senang, belum lagi Sungmin juga akan melihat Project yang awalnya memang di cetuskan oleh Hyun Yoong. Hari ini adalah hari yang cukup membahagiakan bagi Hyun Yoong. Sangat Bahagia.

-----

“Wasseo~!”, Pekik seorang namja dari kejauhan ketika Mobil Kyuhyun cs sudah sampai di Rumah Istirahat. Dia adalah Yesung yang masih mengenakan seragam dokternya. Ternyata Yesung tidak sendirian disana, Yesung sepertinya bersama dengan beberapa orang.

“Hyung~!”, Balas Donghae sambil melambaikan tangannya ke arah Yesung. Mereka pun segera mendekat ke Yesung.

“Dokter Kim?”, Heran Sungmin sambil memanggil Yesung dengan panggilan Dokter Kim.

“Tuan Lee?”, Yesung juga sama terkejutnya dengan Sungmin.

“kalian saling mengenal?”, Tanya Eunhyuk penasaran pada Yesung dan Sungmin.

“tentu saja~ Dia adalah Dokter Kim Jong Woon, dulu saat aku masih di rawat di rumah sakit, dia adalah dokterku~”, Jelas Sungmin dengan mengembangkan senyum lebarnya, “aku tidak mengerti jika Dokter Kim adalah teman Hyun Yoong-ssi.....”

Yesung menatap wajah Hyun Yoong, dan dari ekspresi wajahnya kelihatan sekali bahwa ada hal yang ingin ia tanyakan pada Hyun Yoong, “dulu aku tidak datang saat pernikahan Hyun Yoong, aku pikir namja yang dinikahi Hyun Yoong adalah Sungmin yang lain~ aku sama sekali tak menduganya~”

“Baiklah~ mari kita melihat-lihat ke dalam~”, Ajak Kyuhyun sambil tetap menuntun jalan Hyun Yoong.

Yesung berjalan paling belakang, diikuti dengan Ryeowook dan Donghae, “Hyung, apakah itu Sungmin yang dulu?”, Tanya Ryeowook penasaran.

“Ne...... aku sama sekali tidak menyangkanya~”, Jawab Yesung dengan melihat ke Sungmin yang berjalan di samping Hyun Yoong.

-----

Hyun Yoong yang notabene-nya tidak bisa melihat, kini hanya duduk di serambi Rumah sembari meneguk Teh yang tadi dibuat oleh Ahjumma Penjaga Rumah tersebut.

“Hyun Yoong-ah~”, Suara seorang namja hampir mengagetkan Hyun Yoong~

“Yesung-ah..... itu kau?”, Tanya Hyun Yoong memastikan.

Yesung kemudian duduk di samping Hyun Yoong, dan ikut meneguk secangkir Teh, “Jadi, ucapanmu saat itu memang benar? Kau benar-benar jatuh cinta pada mantan pasienku yang bernama Lee Sung Min?”

“Yesung-ah, tolong jangan bicarakan itu disini”

Yesung menengadahkan kepalanya ke atas, dan kemudian mencoba memejamkan matanya, angan-angannya memutar pada kejadian beberapa bulan yang lalu, kejadian yang membuat kehidupan sahabatnya kini berubah.

“Ah~! Appo~”, Keluh Hyun Yoong sembari memegang Ulu Hatinya lagi.

“Gwaenchana?”, Tanya Yesung yang kini mencoba untuk memeriksa keadaan Hyun Yoong.

“Akhir-akhir ini sering terasa sakit~! padahal aku sudah istirahat dengan cukup.....”, Wajah Hyun Yoong kian pucat.

Yesung juga merasa jika nadi Hyun Yoong agak melemah, saat ia memeriksa dahi Hyun Yoong, banyak keringat dingin yang mengucur disana, “kau menahan rasa sakit mu sejak tadi....”, Omel Yesung pada Hyun Yoong, tapi disaat yang bersamaan Hyun Yoong sudah tak sadarkan diri, “Yoong-ah...”, Yesung mencoba mengguncang-guncang tubuh Hyun Yoong, tapi tak ada response.

Teriakan Yesung tadi terdengar oleh Sungmin dan lainnya, mereka pun segera menghampiri Yesung dan Hyun Yoong, dan melarikan Hyun Yoong ke Rumah Sakit.

-----

Sungmin duduk diam di ruang tunggu Rumah Sakit, tangannya mengepal erat dan pikirannya juga sangat khawatir atas keadaan Hyun Yoong. Ia yang sama sekali tak tahu apa yang terjadi pada Hyun Yoong, hanya bisa berdoa semoga Hyun Yoong baik-baik saja. Ke-empat teman Hyun Yoong yang lain, yaitu Kyuhyun, Ryeowook, Eunhyuk, dan Donghae juga ikut menunggui Hyun Yoong. Sementara Yesung yang memang bekerja sebagai Dokter, kini masih memeriksa keadaan Hyun Yoong bersama dengan dokter lainnya.

Ceklek~! Pintu UGD terbuka. Yesung keluar diikuti dengan beberapa dokter yang lain. Yesung segera menghampiri Sungmin, “bisa kita bicara di ruanganku?”, Pinta Yesung.

-----

“Aku ingin bicara disini bukan sebagai Dokter Kim Jong Woon, Hajiman aku ingin bicara sebagai Sahabat dari Hyun Yoong~”, Ujar Yesung mengawali pembicaraan.

“Apakah Hyun Yoong-ssi baik-baik saja?”, Tanya Sungmin dengan pelan.

“Sungmin Hyung, apa aku tahu jika Hyun Yoong sudah menyukaimu sejak kau dirawat di rumah sakit ini?....”

“Ne?”, Sungmin mengernyitkan dahinya bingung, dengan maksud Yesung barusan.

“Pertama kali kau datang di rumah sakit ini, karena kau mengalami kecelakaan parah yang merenggut kornea matamu~ kau ingat itu bukan?”, Yesung menatap tajam mata Sungmin, dan kini mereka berdua saling berhadap-hadapan, “Saat itu, ada salah satu pasien ku, yang juga adalah sahabatku, dia kasihan padamu~!”

~Flashback On~

Hyun Yoong baru saja keluar dari ruangan Yesung, di belakangnya ternyata Yesung juga keluar, “kau mau merawat pasienmu yang bernama Sungmin itu?”, Tanya Hyun Yoong penasaran.

“Ne... dia kasihan sekali, sekarang dia buta dan butuh donor kornea mata~!”

“kkeureom, kau tidak kasihan padaku hah?”, Sahut Hyun Yoong kesal, “dia baru menunggu 1 minggu, sedangkan aku. Sudah 20 tahun aku menunggu donor hati~!”

“Aigoo~! Cerewet sekali~!”, Yesung mengacak-acak rambut Hyun Yoong kesal, karena sahabatnya itu memang sangat cerewet, “Kkaja ikut aku~! Kau tahu, Sungmin itu memiliki wajah yang manis~!”, Yesung segera menarik tangan Hyun Yoong, dan mengajaknya ke ruang rawat Sungmin. Ternyata, disana Sungmin masih tertidur dengan pulasnya, “bagaimana, manis kan?”

Hyun Yoong mengamati wajah Sungmin, namun bagian mata Sungmin masih diperban, entah kenapa seperti ada aura magis yang membuat Hyun Yoong tak ingin mengalihkan perhatiaannya dari Sungmin.

Di hari lain, setelah Hyun Yoong melakukan pemeriksaan di Rumah Sakit, Hyun Yoong juga melihat Sungmin dari balik jendela. Keadaan Sungmin masih sama, belum mendapat pendonor kornea mata. Entah mengapa Hyun Yoong merasa makin Iba dengan Sungmin, “ini sudah hampir 4 Bulan... dia pasti sangat menderita~”, Lirih Hyun Yoong, dan saat itu juga ia memutuskan sesuatu.

Hyun Yoong berjalan ke ruangan Yesung, dan segera membuka pintu ruangan itu, “Aku akan mendonorkan kornea ku~”, Ujar Hyun Yoong pada Yesung dengan tegas.

“Mwo? Apa maksudmu?”, Tanya Yesung bingung.

“Lee Sungmin, aku akan mendonorkan korneaku untuknya~ segera test apakah kornea ku cocok atau tidak dengannya~”

“Neo Micheoseo?!”,  Pekik Yesung dengan agak tercekat.

“Menunggu itu bukanlah hal yang mudah, aku tahu bagaimana rasanya... Lagipula, aku terkena Gangguan Hati, selama hidupku tak sekalipun aku melakukan hal yang baik. Karena itu, karena aku masih bisa hidup hingga sekarang, aku ingin melakukan sesuatu yang berguna untuk orang lain~!”

“Hyun Yoong-ah......”

~Flash Back End~

Sungmin meraba matanya, dan di saat itu juga, bulir-bulir bening hendak keluar dari bola matanya, “jadi ini miliknya?”

“aku tak tahu bagaimana ceritanya hingga kau bisa menikahi Hyun Yoong~! Ia tak pernah cerita padaku sebelumnya~”

-----

Sungmin masuk ke dalam Kamar Rawat Hyun Yoong, dan disana ternyata Hyun Yoong hanya sendirian saja, “Nuguseyo?”, Tanya Hyun Yoong karena ia dapat merasakan kehadiran orang di ruang rawatnya itu.

“Ini Aku......”

“Sungmin-ssi? Wasseo~”

Sungmin duduk di samping tempat tidur Hyun Yoong, dan kemudian ia segera memegang tangan Hyun Yoong, Hyun Yoong sedikit terkejut karena ini pertama kalinya Sungmin melakukan hal itu, “kenapa kau lakukan itu? Mata ini, milikmu bukan?”, Tanya Sungmin.

“Sungmin-ssi.....”

“Mianhaeyo, mianhae, aku tak tahu.....”, Sungmin semakin mengeratkan dekapan tangannya pada tangan Hyun Yoong, “selama ini aku tak bisa ramah padamu~! Aku menjadi suami yang buruk.....”

“Aniyo~ bagiku kau adalah Suami yang baik”

Sungmin bangkit dari duduknya, dan kemudian segera memeluk Hyun Yoong, sangat erat hingga tak ada jarak lagi yang mampu memisahkan mereka, “Aku belum bisa mengatakan aku mencintaimu, tapi akhir-akhir ini aku sering merasa kau menjauh dariku..... Kau tak lagi menungguku pulang kerja, aku benar-benar merasa kehilanganmu~”, Sungmin melepaskan pelukannya, dan menatap wajah Hyun Yoong dengan jarak yang sangat dekat.

Chu~

Sungmin mencium bibir Hyun Yoong sekilas, “Tolong cepat sembuh, dan Tunggulah aku saat aku pulang kerja”

“Ne.....”

-----

Semenjak kejadian waktu itu, kehidupan Rumah Tangga Sungmin dan Hyun Yoong pun berubah. Sungmin kini belajar menjadi suami yang baik untuk Hyun Yoong, bukan karena kasihan, namun Sungmin merasa ia mulai menyukai Hyun Yoong.

Sungmin juga membantu pendanaan Project Rumah Istirahat untuk penderita Kanker yang direncanakan oleh Hyun Yoong juga sahabatnya.

“jadi, kapan Rumah ini selesai direnovasi?”, Tanya Sungmin pada Kyuhyun yang bekerja sebagai Arsitek dari Rumah Istirahat itu. Sungmin tampak mengalungkan tangannya di pinggang Hyun Yoong.

“Bulan depan sudah selesai... Aku harap penderita Kanker bisa menjadi makin sehat jika mereka mengunjungi rumah ini nanti~”, Ujar Kyuhyun dengan penuh percaya diri.

Sungmin hanya tersenyum, dan saat ia melihat ke wajah Hyun Yoong, ternyata Hyun Yoong juga sama tersenyum nya.

Ryeowook, Eunhyuk, Donghae, dan Yesung sibuk mengatur interior di dalam Rumah, dan juga berbagai macam hal yang akan dibutuhkan sebagai pendukung keberhasilan project mereka.

Ternyata tak sampai sebulan, akhirnya Rumah Istirahat itu sudah jadi. Tiap harinya banyak penderita kanker, baik anak-anak maupun dewasa yang mengunjungi Rumah itu. Disana ada tempat bermain, dan juga tempat untuk berbagi dengan sesama penderita kanker.

Sungmin dan Hyun Yoong duduk berdua di bawah pohon cemara yang di bukit belakang Rumah Istirahat itu, “Apakah Rumah istirahat sangat indah?”, Tanya Hyun Yoong yang saat ini bersandar di dada Sungmin.

“tentu saja~! Areumdaeun~”

“Aku berharap bisa melihatnya~”, Ujar Hyun Yoong dengan nada pasrah.

Sungmin menyentuh punggung Hyun Yoong dan membalikkan badan Hyun Yoong untuk berhadap-hadapan dengannya, “pejamkan matamu”, Perintah Sungmin, yang langsung dituruti oleh Hyun Yoong, dan selepas itu tiba-tiba saja Sungmin mencium kedua mata Hyun Yong secara bergantian, “aku telah mentransfer hal yang kulihat padamu... sekarang kau bisa merasakan keindahan Rumah istirahat, bukan?”

Hyun Yoong hanya tersenyum, “aku lupa jika aku sudah menitipkan mataku padamu, aku tak perlu takut jika Rumah Istirahat tak sebagus harapanku, karena aku yakin itu sangatlah indah~!”

“Sarranghae~”, Ujar Sungmin kemudian.

“aku memiliki gangguan pada Organ Hati... apa kau masih mau hidup bersamaku, Sungmin-ssi?”

“Pasangan hidup tidaklah harus orang yang sempurna, karena dengan ketidaksempurnaan itulah kita diciptakan untuk menyempurnakan hidup pasangan hidup kita” – Sungmin.

Sungmin kemudian mengecup bibir Hyun Yoong lagi. Cukup lama. Dengan diiringi oleh hembus angin yang pelan sore hari itu, Sepasang anak manusia yang disatukan karena keterpaksaan, kini telah mensyukuri keterpaksaan yang membuat mereka bersatu. Dan berjanji akan selalu menjaga hingga maut benar-benar mengambil salah satu diantara mereka.

-The End-


“Pasangan hidup tidaklah harus orang yang sempurna, karena dengan ketidaksempurnaan itulah kita diciptakan untuk menyempurnakan hidup pasangan hidup kita” – Sungmin.

Read More

Sad Love

  No comments
07:36:00

[ ONESHOT ] SAD LOVE


SAD LOVE
Author             : Amna Haelf
Fb                    : Amna Hyun Joong
Cast                 : Cho Kyuhyun
                         Shim Hyunbyung
Genre              : sad, romance, angst
Length             : oneshot
Disclaimer       : this fanfiction is mine. The cast ( Cho Kyuhyun) is belongs to himself, God, his family and Elf. OC is mine too. Don’t try to copas  and bash it! Be anti plagiarism generation! ^^
            Annyeong yeorobeun! Amna datang lagi nih… moga aja gk bosan-bosan baca karya Amna. Makasih buat yang udah mau RCL… Amna terharu bgt sama apresiasi kalian. #lap ingus
#abaikan!
Ok, ff ini adalah permintaan dari saeng tersayangku Anis Haerin. Dia minta ff genre angst. Karena kebetulan di lepi ada ff angst yang belum ku publish jadi ku publish aja sekarang. Klo buat bikin lain belum sempat. #sok sibuk
#plaak
Oy, castnya sama kyk yang di My Wife’s Heart Voice. Cm beda couplenya. Karena Hyunbyung sama Hyora sama-sama mencintai Kyuhyun jadi gk da salahnya di ff ini Hyunbyung yang jadi cast utamanya. Hahahai
Tapi jeongmal mianhe, yg my wife’s heart voice blm bisa di publish krn gk smpt ketik. Tp dlm minggu ni pasti di publish kok.. #peace sign
Daripada banyak kata mending baca aja deh..
Happy reading!
RCL ya…!
Love U all…………..!!!



-Hyunbyung POV-
            Kakiku melangkah ringan ke tepi danau. Bibirku tak henti-hentinya menyunggingkan senyum. Kulihat sosok yang duduk bangku tepi danau dan segera kuhampiri dia.
“Bgoshipo,” ujarku setelah duduk disampingnya dan merebahkan kepalaku di bahunya. Dia melihatku sekilas lalu melihat jam tangannya.
“Mianhae, aku telat,” pintaku seraya menegakkan badanku dan menatapnya wajahnya lekat. Ingin kurekam setiap lekukan wajah yang terpahat sempurna ini. Mata cokelatnya, hidung mancungnya, bibirnya yang kemerah-merahan dan juga kulit wajahnya yang memang terlihat pucat. Aku menyukai apa yang ada pada dirinya, kembali kurebahkan kepalaku dibahunya sambil menghirup wangi tubuhnya yang menenangkan.
“Byung-ah,” panggilnya
“Wae?” tanggapku.
“Kita berakhir saja.”
Jderr!
Sontak aku terkejut dan menatapnya.
“Hubungan kita sampai disini saja,” jelasnya.
Mataku mulai nanar. “Wae?” tanyaku dengan suara bergetar.
“Aku lelah.” Dia mulai bangkit tapi segera ku tahan tangannya.
“Kyu…” lirihku. Dia menepis tanganku agak kasar lalu berlalu. Aku pun mengejarnya, aku belum puas dengan jawabannya. Kenapa tiba-tiba dia memutuskan hubungan kami?
“Anggaplah kita tidak pernah mengenal dan berhenti bersikap munafik di depanku.”
            Kali ini dia benar-benar pergi. Kakiku terasa lemas hingga aku terduduk di tanah. Sebenarnya dia kenapa? Apa salahku? Kenapa dia berubah seperti itu? Ku tekuk wajahku ke lutut. Aku merasa sesak, hatiku sakit dan kepalaku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan tentang sikap Kyuhyun hari ini.

***

            Aku memasuki ruang kuliahku dengan tidak bersemangat. Baru saja aku sampai di pintu, aku sudah di sambut oleh pemandangan  yang kembali membuat hatiku sakit. Kyuhyun tidak lagi duduk di sampingku. Dia duduk bersebelahan dengan Hyora, gadis yang selama ini menjadi rivalku. Segera kuhampiri mereka.
“Kyu…”
Dia mendecak kesal. “Wae?”
“Kenapa kau duduk disini?” tanyaku.
“Wae? Dia namjachingguku,” sahut Hyora cepat. Air mataku kembali mengalir. Aku adalah gadis manja. Aku benci diriku sendiri saat lemah seperti ini. Aku benci saat aku menangis di depan mereka, tapi kenyataannya inilah aku. Aku akan tetap menjadi gadis manja yang lemah.
            Kyuhyun bangkit dan menarik tanganku keluar dari ruangan. Dia menyeretku menuju tempat yang agak sepi. Dihempaskannya tanganku kasar.
“Apa kata-kataku kemarin kurang jelas Shim Hyunbyung?” desisnya. Matanya menatapku tajam.
“Kenapa kau menyakitiku?” lirihku dalam tangis. Dia tidak pernah bersikap kasar padaku tapi kali ini dia sangat keterlaluan.
“Kau sendiri yang membuatku seperti ini, kau yang membuatku memebencimu Shim Hyunbyung dan kau!” . Ia menunjukku.
“Berhenti mencampuri urusanku!” ujarnya. Aku menutup mataku takut, takut melihatnya seperti ini.
“Dasar munafik!” gumamnya sambil berlalu. Aku berjongkok sambil terisak dan menutup kedua telingaku. Kenapa kata-katanya begitu menyakitkan? Aku bahkan tidak tahu letak kesalahanku. Kenapa dia mengatakan aku munafik? Apa aku berbuat salah padanya?
“Kyu… kau jahat!”
-Hyunbyung POV end-

***

-Kyuhyun POV-
            Nafasku naik turun menahan emosi. Kulihat dia dari jauh, dia berjongkok sambil menutup kedua telinganya dan mengatakan ‘aku jahat’ berulang-ulang kali. Apa aku keterlaluan padanya? Aku menggeleng pelan, ia pantas mendapatkannya.
            Aku sadar selama ini apa yang kulakukan selama ini sia-sia dan aku menyadari bahwa aku sangat lelah. Dia mengekangku, mengekoriku dan takut aku meninggalkannya. Aku harus ada 24 jam untuknya dan dia sama sekali tidak membiarkanku dekat dengan yoeja lain sekalipun untuk membuat tugas bersama. Jika ada tugas kelompok dia pasti ikut denganku. Terdengar konyol? Itu berlangsung hampir 3 tahun.
            Seminggu yang lalu dia tidak masuk kuliah dengan alasan menemui saudaranya di Gangnam. Tapi kenyataannya? Aku memergokinya sedang menikmati ice cream dengan seorang namja dan dia terlihat bahagia. Dan itu bukan di Gangnam tetapi disalah satu café dekat apertemennya. Saat ku telepon dia bilang sedang sibuk, aku tidak bisa dibohongi Hyunbyung. Kau sendiri bisa bersama namja lain bahkan membohongiku. Apa kau tidak tau jika selama ini aku sangat terkekang dalam hubungan ini?
            Sekarang aku berpacaran dengan Hyora, teman seruang kami. Dari dulu aku mengaguminya, dia pintar, lebih dewasa dan lebih cantik daripada Hyunbyung. Dan Hyunbyung pasti marah karena dari dulu dia tidak pernah akur dengan Hyora. Aku hanya ingin terlepas , dia tidak bisa mengekangku terus-terusan. Kita  sudah berakhir Hyunbyung.
-Kyuhyun POV end-
***

-Hyubyung POV-
            Aish… kepalaku terasa berat. Mungkin karena semalam aku terlalu banyak menangis. Ku raba ponselku yang sepertinya berbunyi sejak tadi. Benar saja, ada 2 missed call dan itu dari Jungsoo oppa. Ponselku berbunyi lagi dan segera kutekan tombol dial.
“Yeoboseyo,”
“Byung-ah,kwenchana? Kenapa sejak tadi kau tidak menjawab heh?” cercanya langsung.
“Kwenchana oppa… oya ada apa meneleponku?” tanyaku
“Aish.. jangan lupa kalau hari ini kau harus check up,”
Aku menepuk keningku sendiri, aku benar-benar lupa.
“Ne… aku akan kesana oppa,” ujarku. Dia menjawab singkat dan langsung menutup telepon.
            Sebelum beranjak ke kamar mandi ku tatap sebuah foto 3 orang yang paling ku cintai, foto yang berbingkai yang semalaman sudah ku peluk.
“Eomma.. appa apa aku bisa sembuh?” lirihku.
“Kyu… kau adalah motivasiku untuk sembuh, tapi kenapa kau memperlakukanku seperti ini heh… hal yang paling ku takutkan adalah aku tidak bisa melihat wajahmu lagi tapi hal itu sudah terjadi. Kau menjauh dariku. Aku sangat takut Kyu… sangat-sangat takut.”

***

            Ku seret langkahku menuju tepi danau. Aku menghembus nafas berat seraya meraba mataku sendiri. Heh…. Aku benar-benar lemah, aku mulai pesimis dan tidak yakin atas jalan yang ku ambil. Semua baru permulaan tetapi kenapa sudah menyakitkan seperti ini.
            Aku berjongkok di sana sembari mengambil beberapa kerikil dan melemparnya satu persatu, membuat ketenangan air menjadi terusik. Kemudian kulirik tas selempang mungilku dan ku ambil kantong plastic yang ada di dalamnya.
“Kalian terlihat menyeramkan. Apa kalian akan membuatku sembuh?” gumamku sambil menatap obat-obat dari rumah sakit itu.
“Tapi siapa yang mengharapkanku sembuh? Siapa yang akan mendukungku? Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini…”
Kembali kumasukkan obat-obat itu dalam tas.
            Aku mulai beranjak dari dudukku tapi mataku menangkap sosok yang sangat ku kenali. Kyuhyun dan Hyora? Mereka terlihat bahagia. Menyusuri tepi danau… Kyuhyun merangkul bahu Hyora sedangkan gadis itu melingkarkan tangannya di pinggang Kyuhyun. Semuanya sudah terbalik. Dulu aku bisa meneriakkan pada semua orang bahwa Kyuhyun adalah milikku, tak ada yang boleh mengambilnya dariku. Tapi sekarang lidahku terasa kelu. Kyuhyun sendiri yang meninggalkanku, dia tak menginginkanku lagi.
            2 insan itu terus berjalan lalu tiba-tiba Kyuhyun seperti berbisik di telinga Hyora dan membuat keduanya tertawa. Perlahan mereka berhenti, menatap satu sama lain dan entah siapa yang memulai duluan yang jelas bibir mereka sudah bertautan. Air mataku kembali tumpah. Lihatlah aku yang menyedihkan ini! Kalian berhasil membuatku hancur! Hanya dalam waktu singkat. Jika ini yang memang kalian inginkan kenapa kalian tidak menghancurkanku dari dulu saja!
Dengan memaksakan diri aku pergi darisana. Lebih baik jika bumi menelankku sekarang juga. Permintaan bodoh!

***

     
     -Author POV-
            Hyunbyung berubah. Dia menjadi sangat pendiam dan pemurung. Selain kuliah dia hanya mengurung diri dalam kamar bahkan ia melepas baterai ponselnya. Menangis adalah hal yang paling sering dilakukannya. Matanya terlihat cekung ditambah lingkaran hitam yang ada di matanya membuatnya terlihat menyedihkan.
            Ia melangkah di koridor kampus tanpa mempedulikan mereka yang mengejeknya. Dia mulai dikucilkan dan dicibir.
“Kasihan sekali dia di campakkan oleh Kyuhyun,” ucap mereka saat dirinya lewat. Ia memasuki ruang dan tanpa sengaja menabrak seorang yeoja. Wajahnya terlihat tegang dan tangannya meremas ujung cardigan yang ia gunakan. Yeoja yang di tabrak mendecak kesal lalu berlalu.
            Setelah beberapa lama terdiam, Hyunbyung menuju mejanya lalu menangkup wajahnya di meja. Air matanya kembali menganak. Kenapa hidup terlalu kejam padanya?

***

            Kyuhyun sama sekali tidak bisa focus terhadap materi yang diajarkan oleh dosen. Mata dan fikirannya tersita pada yeoja yang duduk agak jauh dari tempat ia duduk. Ya… ia menatap Hyunbyung, gadis itu juga tidak serius pada pelajarannya. Bahkan Hyunbyung lebih terlihat seperti mayat hidup dan keadaan Hyunbyung yang seperti itu hampir berlangsung selama 2 minggu.
            Apakah ini semua karenanya? Kyuhyun merasa tak tenang. Bahkan saat orang tua Hyunbyung meninggal 3 tahun yang lalu gadis itu hanya menangis selama seminggu dan minggu berikutnya ia kemabli ceria dan manja.
-Author POV end-

***

            -Kyuhyun POV-
            Waktu telah habis dan dosen pun keluar. Kulirik Hyunbyung yang mengambil tas dan beranjak keluar. Mau kemana dia?
“Kyu, ayo kekantin!” ajak Hyora. Aku tersenyum menanggapi ajakannya.
            Jus orange segar membasahi tenggorokanku yang sejak tadi terasa kering. Pandanganku tertuju pada Hyunbyung yang sedang membawa nampan berisi makanan dan sepertinya ia sedang mencari tempat kosong untuk duduk. Aku melirik tempat kosong yang ada disampingku. Tak mungkin aku menyuruhnya duduk disini. Terlalu banyak yang tidak menyukainya disini seperti Hyora dan teman-temannya.
            Ia menghela nafas lega saat menemukan tempat duduk tapi pada saat ia hendak menuju kesana secara tak sengaja is menabrak seorang yeoja. Aku hafal betul sikapnya, ia pasti akan meminta maaf berulang-ulang tapi yeoja itu malah membentaknya. Semua yang ada di kantin mengalihkan pandangan kearahnya. Sialan! Yeoja itu menyiram jus strawberry yang ada di nampan Hyunbyung ke kepala Hyunbyung sendiri. Aku menggeram kesal.
“Kyu, kwenchanna?” Tanya Hyora. Aku tersenyum kearahnya dan kembali melirik Hyunbyung yang terduduk di bangku dengan tatapan kosong dengan jus yang menetas dari rambutnya. Aish… apa ia tidak bisa melawan? Aku benci melihat sikap lemahnya itu. Dia terlalu terbiasa bergantung pada orang terdekatnya seperti aku.
“Kyu… khaja!” Hyora menarik tanganku. Kami beranjak pergi dari kantin. Dengan terpaksa aku mengikutinya walaupun pikiranku tersita pada Hyunbyung.

***

            Dosenpun sudah mengajar sekitar setengah jam yang lalu tapi gadis manja itu belum menampakkan diri. Apa dia pulang karena bajunya basah? Aku benar-benar tak tenang. Setelah meminta ijin sebentar aku kembali menuju kantin, firasatku mengatakan ia disana.
            Benar saja, dia masih duduk dengan posisi yang seperti tadi. Aku pun menghampirinya.
“Kenapa kau masih disini, heh? Kau seperti orang bodoh!” seruku seraya mengambil tisu dan membersihkan rambutnya.
            Tiba-tiba dia bangkit dan menatapku. Wajahnya sangat pucat dan ia tersenyum padaku.
“Kau tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja. Aku tidak mau merepotkanmu lagi.” Ia mengambil tasnya lalu pergi. Apa ia Hyunbyung yang ku kenal?
-Kyuhyun POV end-

***

            -Hyunbyung POV-
            Kenapa ia memberi harapan untukku? Belum puas ia menyakitiku? Aku berusaha menahan tangis dan pergi dari sana. Aku berniat pulang tetapi sampai di gerbang kurasakan seseorang menarik tanganku.
“Jungsoo oppa..,” gumamku. Dia melihatku dari atas sampai bawah dengan tatapan tak percaya.
“Byung-ah, kwenchanna?” tanyanya khawatir. Aku mengangguk kecil.
“Aish… aku sudah mencarimu kemana-mana. Kenapa kau tidak datang untuk check up? Bagaimana keadaanmu sekarang?”
Aku menunduk lemas. “Aku tidak punya harapan lagi oppa. Penghilatanku mulai menghilang secara tiba-tiba. Aku takut oppa,” jelasku.
Jujur aku sangat takut. Kejadian seperti ini memang sudah berlangsung beberapa kali tapi  tadi yang terparah. Tiba-tiba penglihatanku menjadi gelap dan membuatku menabrak beberapa orang seperti di ruang ataupun di kantin. Kurasakan Jungsoo oppa memelukku. Aku tahu dia berusaha menguatkanku.
“Khaja kita ke rumah sakit untuk check up. Aku ingin mengecek perkembangan mu,” ujarnya.
-Hyunbyung POV end-

***

-Author POV-
            Tanpa mereka sadari ada seseorang yang melihat mereka dari kejauhan. Orang itu Kyuhyun, ia mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Jelas sekali ia sedang menahan emosi.
“Aku tidak salahkan Shim Hyunbyung? Kau sendiri yang membuatku membencimu” gumamnya pelan.

***

            Jungsoo mematikan senter kecilnya lalu membantu Hyunbyung duduk.
“Eotte oppa?” tanyanya. Jungsoo duduk di mejanya lalu menghela nafas panjang sedangkan Hyunbyung masih duduk di pinggir tempat tidur rumah sakit.
“Apa akhir-akhir ini kau tidak minum obat yang ku berikan?” tanyanya. Hyunbyung menggeleng pelan membuatnya kembali menghembuskan nafas berat.
“Penyakitmu bertambah parah Byung-ah, obat-obat itu tidak berguna lagi. Jalan satu-satunya adalah operasi tapi kita harus menunggu sampai adanya pendonor kornea.” Jelas Jungsoo.
“Medapatkan pendonor itu tidaak mudah oppa,” seru Hyunbyung yang mulai menangis. Jungsoo bangkit dan berdiri di depannya.
“Walaupun tidak mudah, kita pasti akan mendapatkannya. Apa kau optimis?” tanyanya. Hyunbyung menggeleng.
“Kenapa aku harus sembuh? Tidaak ada yang mengharapkanku sembuh,” gumamnya.
“Yak.. jangan kau mengatakan itu lagi, arra? Aku  sangat ingin kau sembuh,” ujar Jungsoo. Mereka terdiam beberapa saat.
“Hyunbyung-ah, sejak aku bertemu denganmu, aku seperti bertemu lagi dengan adikku. Sosoknya ada pada dirimu. Kalian sangat mirip,” jelasnya.
“Lalu adik oppa kemana?”
Jungsoo tersenyum kecil karena Hyunbyung tertarik dengan ceritanya.
“Dia sudah di surga,” jawabnya yang sontak membuat Hyunbyung terkejut.
“Dia sakit, sama sepertimu. Beberapa tahun yang lalu belum ada perawatan intensif untuk penyakit ini, ia sangat terpukul, dia tidak punya harapan hingga akhirnya dia depresi. Kau tahu? Cita-citanya menjadi fotografer terkenal tapi ia malah mendapat cobaan seperti itu.  Keadaannya memburuk kami tidak bisa berbuat apa-apa hingga akhirnya dia pergi. Setelah  itu aku bertekad untuk menjadi dokter spesialis mata,” jelasnya panjang lebar dan Hyunbyung kembali tertunduk.
“Aku mengharapkan kau sembuh. Orang tuamu pasti ingin melihatmu sembuh dan Kyuhyunmu? Apa dia sudah tahu?” tanyanya.
“Aku tidak bisa memberitahukannya oppa,” gumam Hyunbyung pelan. Terlihat jelas bahwa ia sedamg putus asa.
Shim Hyunbyung, gadis manja ini di diagnosa menderita penyakit ulkus kornea. Penyakit langka ini menyerang kornea mata secara perlahan. Jika tidak ditangani secara serius bisa menyebabkan kebutaan dan virus ulkus kornea akan terus menyerang saraf-saraf lain dan berakhir dengan pengangkatan bola mata. Antisipasi yang bisa dilakukan adalah operasi kornea dan mencari pendonor kornea bukanlah hal yang mudah.
 Hyunbyung yang sudah pasrah, ia tidak yakin dan tidak mau berharap banyak. Berharap hanya akan membuatnya merasa sakit. Sakit ini sudah cukup, ia tidak tau sampai kapan ia bisa bertahan menghadapi semuanya.
-Author POV end-

***

-Hyunbyung POV-
            Aku tetap menjalani hidupku yang menyedihkan ini. Pola hidupku semakin memburuk dan penyakit yang bertambah parah. Bagaimana bisa aku mempunyai semangat hidup sedangkan yang ku lihat tiap hari kemesraan orang yang selama ini menyemangatiku. Ini sangat menyakitkan. Aku mengerti jika ia tidak mungkin selamanya bersama gadis penyakitan sepertiku. Tapi tak bisakah ia bersikap lembut tanpa harus menyakitiku? Tak bisakah ia menjadi penyemangatku?
            Aku hendak menuju bangkuku tapi aku tersandung hingga tersungkur dilantai. Meraka menertawakanku. Aku tahu betul aku terjatuh bukan karena penglihatanku hilang tiba-tiba, tapi karena kaki yang mereka julurkan. Walaupun lututku sakit tapi aku harus kuat. Mereka harus tahu bahwa aku bukan orang yang bisa di perlakukan seenaknya. Apa selama ini aku menyakiti mereka? Kenapa mereka begitu membenciku?
            Aku menatap tajam salah seorang dari mereka, aku benar-benar muak dengan semua ini. Kenapa hidup terlalu kejam untukku? Dia terlihat takut dan diantara mereka tidak ada yang berani bersuara, lama aku berdiri di sana sembari menahan emosiku, melihat wajah mereka yang sedikit gugup membuatku sedikit senang. Aku menghela nafas panjang lalu berjalan menuju bangkuku.
“Dia menakutkan,” bisik mereka satu sama lain. Aku mengalihkan pandanganku kearah lain dan sial tatapanku bertabrakan dengan Kyuhyun yang juga sedang menatapku. Aku tidak mengerti arti tatapannya itu, kembali kutundukkan kepalaku.
“Kyu… jeongmal bogoshipo” lirihku.
-Hyunbyung POV end-

***

-Kyuhyun POV-      
            Aish …. Aku benci saat hujan seperti ini. Membuat basah dan tidak bebas kemana-mana. Aku mengambil motorku dan memutuskan untuk langsung pulang. Saat sudah digerbang, aku melihat sosok yang sedang berdiri di halte. Segeraku hampiri dia.
“Ayo pulang!” seruku. Dia terlihat terkejut lalu menatapku takut-takut. Dia akhirnya mendekatiku, kutatap wajahnya yang semakin terlihat kurus dan pucat. Kau kenapa, heh?
“Aku tidak langsung pulang tapi ingin ke suatu tempat,” ujarnya pelan.
“Ya.. sudah akan ku antar. Mau kemana?” tanyaku lagi.
“Seoul hospital,” jawabnya pelan.
“Wae.. kau sakit?” tanyaku.
“Aku hanya ingin menemui seseorang,”  Aku mendecak kesal.
“Ayo naik!” seruku dan kali ini jauh dari kata-kata ramah.
            Ku pacu motorku dengan kecepatan sedang. Perlahan hujan berhenti. Aku meliriknya lewat spion. Dia hanya terdiam-mungkin melamun. Aku mendehem pelan dan dia terkejut. Dugaanku benar, dia melamun.
“Sudah hampir sampai,” ujarku dan ia mengangguk kecil.
            “Gumawo,” ujarnya seraya menyerahkan helm padaku. Dan ia segera berlari kecil ke loby rumah sakit. Benarkah yang kulihat sekarang? Namja yang kulihat tempo hari bersamanya tampak sumringah melihat kedatangannya dan langsung memeluknya. Tunggu! Namja itu memakai jas putih. Apa ia seorang dokter di rumah sakit ini? Dimana Hyunbyung mengenalnya? Setauku Hyunbyung tidak punya kenalan seorang dokter apalagi mereka memang terlihat sangat dekat. Aish…!
-Kyuhyun POV end-

***

-Hyunbyung POV-
            Kenapa akhir-akhir ini hujan, aku tidak suka hujan. Dan untung saja hanya hujan gerimis jika hujan lebat pasti aku akan kebasahan karena aku berteduh dibawah pohon rindang di tepi danau. Ponselku berbunyi dan langsung ku baca pesan yang baru masuk.
From : Jungsoo oppa
            Hyunbyung-ah, hari ini pemeriksaan di mulai. Oppa optimis hasilnya akan cocok, kamu semangat, ne?
            Kumasukkan lagi ponselku dalam tas. Kemarin Jungsoo oppa menyuruhku ke rumah sakit dan memberitahuku bahwa ada seorang pendonor. Terus terang aku tidak berharap banyak. Aku sendiri yang tahu perkembangangan penyakitku. Dan kukira tidak ada harapan lagi, seperti hari ini aku kedanau ini karena ini adalah tempat kenanganku dengan Kyuhyun. Aku ingin merekam semua yang berarti bagiku dalam ingatanku mungkin besok aku tidak bisa melihatnya lagi.
“Aww…!” aku mringis saat merasakan sesuatu yang menusuk dilambungku. Aku baru ingat kalau perutku kosong dari kemarin. Aku berjongkok sambil memegang perutku. Aish…. Rasanya sangat sakit sepertidi tusuk-tusuk.
“Waeyo?” aku mengangkat kepalaku dan melihatnya. Dia menatapku dengan tatapan khawatir.
“Appo..” lirihku.
“Kau tidak makan kan?” tanyanya. Dia segera menyuruhku untuk naik ke punggungnya. Ia begitu mengerti diriku tapi kenapa ia tiba-tiba membenciku.
            Dia membawaku ke apartemennya karena memang apartemennya lebih dekat dengan danau. Setelah membaringkanku ke tempat tidur, dia menarik laci dan mengambil obat maag dari sana lalu keluar untuk mengambil air. Bisakah waktu berhenti sekarang? Aku ingin terus bersamanya. Berdua saja. Kyuhyun-ah, aku sangat mencintaimu…
Kubuka mataku pelan walaupum kepalaku masih pening, ternyata aku tertidur setelah makan bubur dan minum obat. Mataku beralih pada pintu kamar mandi yang terbuka, menampakkan sosok Kyuhyun yang keluar dengan kaos v-neck dan celana parasut , ia juga  melampirkan handuk dikepalanya. Dia melempar handuk tersebut ke sofa lalu berjalan kearahku. Tanpa melirikku ia langsung merebahkan diri membelakangiku dan menutup tubuhnya dengan selimut.
“Gumawo,” ujarku dan tidak ada sahutan aku tahu dia belum tidur. Aish… bagaimana memulai pembicaraan dengannya. Aku merindukannya…
-Hyunbyung POV end-

***

-Kyuhyun POV-
            “Gumawo,” ujarnya pelan tanpa balasan dariku. Aku hanya menatap lurus ke depan.
“Kyu, apa kau bahagia bersama Hyora?” tanyanya setelah diam beberapa lama. Aku tidak tahu Byung-ah aku mengaguminya sejak lama ini tapi saat dekat dengannya aku sendiri tidak jelas dengan perasaanku.
“Bahagia, wae?” jawabku.
“Ani, hanya saja jika kau benar-benar bahagia aku akan merelakanmu.” Ujarnya. Kubalikkan tubuhku kearahnya. Dia sedang duduk di dalam selimut dengan menekuk lututnya.
“Lalu apa kau bahagia?” tanyaku.
“Kau tahu sendiri hal-hal apa saja yang membuatku bahagia, kenapa bertanya?” tatapanya lurus ke depan. Aku tahu, aku adalah salah satu dari hal itu tapi apa namja itu juga? Kau egois. Ku hela nafas berat dan hendak menutup mata.
“Seandainya aku punya permintaan terakhir apa kau akan mengabulkannya?” ia beralih menatapku. Aku mengernyit heran. Permintaan terakhir apa yang dimaksud?
“Apa permintaanmu?” tanyaku walaupun akhirnya aku tidak mengerti maksudnya.
“Kumohon jadilah pacarku lagi 2 hari saja.”
Sontak aku terkejut dan bangun. “Kenapa harus itu?” tolakku.
“Jadi kau tidak mau? Aku janji setelah itu aku tidak akan mengganggumu dengan Hyora. Bahkan mungkin aku tidak akan muncul lagi dihadapanmu.”
Lama aku berpikir. Apa tidak apa-apa aku menuruti permintaannya?. Dia menarik nafas panjang dan hendak merebahkan diri tapi aku gapai tangannya, dia menatapku bingung.
“Dua hari saja tidak lebih” tegasku. Senyum manisnya tercipta dan ia memelukku.
            Sudah berapa lama aku tidak memeluk gadis manja ini, dia selalu bilang bahwa pelukanku sama dengan pelukan appanya. Sepertinya tak bisa kupungkiri, aku merindukan ocehannya.
“Gumawo,” ujarnya dan aku mengangguk.
“Khaja kita tidur, ini sudah tengah malam,” Aku merebahkan diri disusul olehnya.
“Tidak ingin memelukku heh?” godaku dan ia menggeleng pelan. Biasa aku harus menemaninya tertidur dulu dan ia memelukku tapi malam ini ia menolak.
“Terserah,” ujarku lalu menutup mata. Kurasakan tangannya menggenggam telapak tanganku erat.
“Wae?” tanyaku.
“Biarkan aku menatap wajahmu. Kau tidur saja,” Aish… kenapa dia aneh sekali. Tanpa ambil pusing aku langsung tidur.
-Kyuhyun POV end-

***

-Author POV-
            Pagi minggu ini terlihat sangat cerah berbeda dengan beberapa hari sebelumnya. Hyunbyung tersenyum sambil menarik tangan Kyuhyun yang berjalan santai dengan tangan yang dimasukkan ke dalam kantong jaketnya.
“Kenapa buru-buru? Walaupun lambat tetap akan sampai” gerutunya kesal. Hyunbyung mengerucutkan bibirnya dan berjalan sendiri ke depan.
“Yak, gadis manja! Jangan marah!” seru Kyuhyun seraya tersenyum.
“Akutidak ingin memnuang waktu sedikitpun,” jawab Hyunbyung.
            Mereka berada di sekolah mereka dulu. Hyunbyung memaksanya kesana karena disana banyak kenangan manis saat dia masih menjadi siswi Senior High School. Banyak tempat yang masih ingin ia kunjungi, ia ingin mengingat moment indah yang dulu pernah terjadi.
Saat ini mereka berada di sebuah taman yang penuh dengan bunga krisan, walaupun bunga ini terlihat seperti bunga rumput tetapi bunga ini sangat indah. Kyuhyun mengeluarkan kameranya dan mengambil foto Hyunbyung yang sedang berdiri di tengah-tengah bunga krisan. Ia tersenyum kecil melihat wajah bahagia Hyunbyung, sudah berapa lama ia tidak melihat senyum itu.
            Tiba-tiba Hyunbyung jatuh dan Kyuhyun langsung menghampirinya, Hyunbyung menutup matanya erat-erat.
“Byung-ah, kwechana?” tanyanya cemas. Hyunbyung membuka matanya perlahan dan menatap Kyuhyun sejenak lalu memeluk Kyuhyun.
“Sepertinya kau kelelahan ayo kita pulang!” ajak Kyuhyun dan dibalas anggukan lemah dari Hyunbyung.
Hyunbyung menguatkan pegangannya di leher Kyuhyun, mereka berjalan melintasi taman krisan.
“Aku berat?” tanyanya.
“Mana mungkin kau berat, kau lihat tubuhmu yang benar-benar kurus ini tidak berisi,” seru Kyuhyun.
“Aigoo, kau mengejekku tuan Cho,” gerutu Hyunbyung.
“Itu kenyataan Nyonya Cho,” balas Kyuhyun. Mereka terdiam sejanak. Itu adalah panggilan kesayangan mereka. Hyunbyung memaksa memakai nama itu karena ia berharap suatu saat ia akan menikah dengan Kyuhyun. Kyuhyun terlihat gugup, ia salah bicara.
“Besok kita jalan-jalan lagi, ne?” Tanya Hyunbyung seraya tersenyum kecut dan ingin mencairkan suasana.
“Besok kita kuliah,” jawab Kyuhyun.
“Libur saja sehari.” Pinta Hyunbyung seraya memejamkan mata.

***

            Hyunbyung duduk di depan televisi tanpa focus terhadap apa yang di tontonnya. Malam ini adalah malam terakhirnya menjadi pacar Kyuhyun. 2 hari memang hampir berlalu setelah tadi siang mereka ke Lotte World. Ia sangat senang sekaligus sedih secara bersamaan. Tapi Hyunbyung bersyukur, setidaknya ia bisa kembali merasakan kebahagiaan walaupun hanya sekejap tapi tak apa.
            Kyuhyun datang dari arah dapur sambil membawa 2 cangkir cappuccino. Dilihatnya Hyunbyung yang melamun. Ia pun mengambil posisi dismping Hyunbyung dan mengejutkan gadis itu.
“Kau selalu melamun,” ujarnya. Hyunbyung tersenyum tipis lalu merebahkan dirinya di dada Kyuhyun. Ia lelah dan sekarang ia butuh istirahat.
“Byung-ah, kau mau tidur? Di kamar saja,” ucap Kyuhyun yang di jawab gelengan.
“Kyu… aku merindukan orang tuaku,” ucap Hyunbyung sambil semakin membenamkan wajahnya di dada Kyuhyun.
“Aku merindukan mereka sampai-sampai rasanya aku tidak bisa menahan rasa rinduku lagi. Aku ingin bertemu mereka,” ujar Hyunbyung yang sontak membuat Kyuhyun melepas pelukannya. Dilihatnya Hyunbyung yang sudah menagis.
“Kenapa kau bicara seperti itu? Aku tidak suka,” seru Kyuhyun. Hyunbyung tersenyum miris lalu beranjak dari sana.
“Aku ingin bertemu mereka,” gumamnya pelan tapi masih bisa di dengar Kyuhyun. Namja itu memejamkan mata perlahan. Jantungnya berdegup kencang mendengar Hyunbyung mengucapkan kata-kata seperti tadi. Semua akan baik-baik saja kan? Yakinnya dalam hati.

***

            Tidak terasa dua hari berlalu begitu saja, rasanya terlalu cepat berakhir. Hyunbyung menghembuskan nafas berat. Bagaimanapun ia harus menepati janjinya pada Kyuhyun, membiarkan Kyuhyun bahagia dengan orang yang dicintainya.
Hyunbyung meringis saat seseorang mencekal pergelangan tangannya.
“Hyora-ssi, appo,” ringisnya. Hyora mendorongnya ke dinding dan kembali mebuatnya meringis.
“Apa kau tidak tahu malu?” cibir Hyora.
 “Meminta namjachingguku supaya bersama denganmu selama dua hari. Kau tidak tau malu!” seru Hyora. Matanya sama sekali tidak menampakkan belas kasihan kepada Hyunbyung yang sudah menangis.
“Jangan dekati Kyuhyun lagi!” tegas Hyora seraya mendorong kembali Hyunbyung ke dinding. Hyunbyung merosot kelantai sambil menangis terisak. Ia tidak tahan dengan semuanya, kenapa cobaannya begitu berat.
“Eomma…appa… hiks,” isak Hyunbyung.

***

            Kyuhyun memapah Hyunbyung menuju ruang kesehatan. Tadi Hyunbyung merasa pusing sehingga dosen mereka-Mr. Park menyuruh Kyuhyun mengantar gadis itu. Kyuhyun membaringkannya di ranjang rusang kesehatan.
“Appo?” tanyanya dan Hyunbyung menggeleng.
“Cuma pusing,” lirihnya.
“Gumawo, kau kembali saja keruang,” ujarnya.
“Aku keluar dan meninggalkan Yeoja lemah sepertimu sendiri, tidak akan!” serunya.
“Kau perlu obat atau semacamnya?” Hyunbyung menggeleng, karena ia rasa ia hanya butuh istirahat. Ia mulai memejamkan matanya dan berharap keadaanya akan membaik nantinya.

***


            Hyunbyung mengerjap pelan lalu melirik jam tangannya, ternyata ia tertidur selama setengah jam. Diliriknya Kyuhyun yang duduk di sofa dan sedang membaca buku.
“Kyu, kau tidak masuk?” tanyanya sambil berusaha bangun dan buru-buru dibantu oleh Kyuhyun. Hyunbyung terkesiap saat Kyuhyun berada di depannya, nafas namja itu menerpa wajahnya. Ia menatap wajah Kyuhyun lagi dan entah dorongan darimana, ia menarik wajah Kyuhyun dan mengecup bibir Kyuhyun lembut. Mata Kyuhyun terbelalak sempurna tapi ia tidak menolak. Tak bisa dipungkiri ia merindukan Hyunbyung juga. Dirasakannya bibir Hyunbyung bergetar dan tak lama ia melepas tautannya pada Kyuhyun.
“Mianhe…” ujar Hyunbyung sambil bangkit dan berlari keluar dari ruangan itu, meninggalkan Kyuhyun yang masih terdiam.

***

-Hyunbyung POV-
            Sudah 4 hari aku tidak kuliah. Keadaanku makin lemah setelah Jungsoo oppa memberitahukan bahwa kornea dari pendonor kemarin tidak cocok. Meskipun aku tidak berharap banyak tapi tetap saja hal itu mebuatku drop. Semuanya sia-sia saja, aku yakin tidak ada harapan.
Hari ini kembali kulangkahkan kakiku di Kyunghee University ini. Aku harus kuat di saat terakhir sisa hidupku tak seharusnya kuhabiskan mendekam dalam kamar.
“Kau harus kuat Hyunbyung-ah, kau bisa,” aku menyemangati diriku sendiri.
-Hyunbyung POV end-

***

-Kyuhyun POV-
            Akhirnya aku bisa melihat wajahnya lagi. Setelah kejadian di ruang kesehatan dia tidak menampakkan dirinya. Sebenarnya aku ingin sekali mengunjunginya ke rumah tapi egoku terlalu besar. Aku tidak pernah menjenguknya. Kulihat wajahnya yang sudah  sangat kurus, begitu juga dengan matanya yang cekung, ingin kuhampiri dia.
“Byung-ah… “ panggilku saat kuliah selesai, kurasa sekarang lebih leluasa. Dia manatapku datar.
“Wae.. waeyo?” suaranya terdengar bergetar. Baru saja hendak menempelkan punggung tanganku di dahinya untuk memeriksa apa ia baik-baik saja, seseorang menarik tanganku.
“Hyora…” gumamku terkejut.
“Yak, gadis manja! Sudah berapa kali kuperingatkan apa kau tidak mengerti?” serunya seraya mendorong bahu Hyunbyung.
“Hyora…” seruku terkejut.
“Wae?” serunya ke arahku. Ia terlihat sangat marah.
-Kyuhyun POV end-

***

-Hyunbyung POV-
            Bisakah mereka berhenti bertengkar? Aku pusing sekaligus takut. Sejak tadi  penglihatanku buram, aku tidak bisa melihat dengan jelas. Tanpa kuperdulikan mereka aku keluar sambil mengerjap beberapa kali, berharap penglihatanku kembali terang. Kutelusuri koridor kampus sambil meraba-raba pada dinding. Aku mulai menangis, aku takut. Ku coba mencari nomor Jungsoo oppa diponsel tapi tidak kutemukan. Tanganku bergetar hebat hingga ponselku pun jatuh.
            Aku sudah diluar perkarangan kampus, aku sudah terisak. Ku tolehkan kepalaku kesana kemari mencari taxi, aku harus kerumah sakit sekarang. Eomma, appa.. eottoke?
-Hyunbyung POV end-

***

-Kyuhyun POV-
            Aish berdebat dengan yeoja ini membuat darahku mendidih. Aku bahkan tidak sempat mengejar Hyunbyung karena ia mencegatku. Kenapa sifatnya berubah jadi menyebalkan seperti ini? Ia tidak seperti Hyora yang ku kenal. Ia sangat egois.
“CUKUP HYORA !” bentakku dan air matanya mulai turun. Ku coba untuk mengontrol emosiku yang sudah mencapai puncaknya. Aku mencoba menetralkan nafasku yang terengah-engah sedangkan ia menatapku tak percaya.
“Hyora-ya, jangan seperti ini!” pintaku.
            Tiba-tiba seorang namja tergopoh-gopoh menghampiri kami. Ia terlihat ketakutan dan keringat membasahi dahinya.
“Kau Cho Kyuhyun kan?” tanyanya dan aku mengangguk.
“Hyunbyung kecelakaan!” serunya.
JDEER !
Tubuhku menegang, darahku seperti  menguap. “M…mwo?” tanyaku memastikan.
“Dia jadi korban tabrak lari di depan kampus dan sekarang sudah di bawa ke rumah sakit.” Tanpa menunggu lagi, aku segera berlari seperti orang kesetanan menuju rumah sakit.

***

            Air mataku menitik saat melihat tubuh kurusnya yang dipasangi berbagai macam kabel dan kepalanya yang di perban. Sudah 4 jam aku menunggu di depan ruang UGD dan sekarang aku diperbolehkan masuk. Kuhampiri dia dan kuraih tangannya.
“Kyu….,” lirihnya smbil membuka mata.
“Uljima,” ia mengangkat tangannya dan segera ku dekatkan wajhku. Di hapusnya air mataku pelan. Ini pertama kali aku menangis karenanya. Kenapa rasanya sangat menyakitkan seperti ini? Aku tidak sanggup melihatnya.
“Yeoja bodoh! Kenapa tidak berhati-hati!” seruku di sela tangis. Ia tersenyum kecil seraya menahan sakit.
“Kyu.. jeongmal saranghae,” ujarnya dengan mata yang kembali terpejam.
“Byung-ah! Shim Hyunbyung!” seruku takut.
“Kau akan hidup bahagia kan?” tanyanya pelan dan kembali membuka mata. Hatiku sedikit lega. Ku eratkan genggamanku pada tangannya yang berada di pipiku.
“Aku tidak tahu,” jawabku.
“Kau harus bahagia ! Aku sudah mengorbankan perasaanku demi kebahagiaanmu,” ujarnya lemah. Kutatap matanya yang sendu itu. “Saranghae,” ujarnya lagi.
“Nado saranghae,” ujarku seraya menempelkan bibirku kepada bibirnya.
“Mianhae,” bisikku pelan dan kembali melumat bibirnya. Aku baru menyadari aku sangat mencintainya.
“Gumawo Kyu atas semua yang telah kau  berikan,” dia tersenyum pelan. Hatiku sakit melihat senyuman kepedihannya itu. Aku terkejut saat melihat garis di alat pereksi detak  jantung yang mulai lurus.
“Byung-ah!” kugoncangkan tubuhnya pelan tapi ia tidak merespon “Yak Shim Hyunbyung!” panggilku dan garis itu benar-benar lurus dan mesin di sampingnya mengeluarkan suara yang dapat memekakkan telinga.
“Byung-ah, kau benar-benar pergi,” lirihku dalam tangis.
“Byung-ah, mianhe…”

***

Kutatap gundukan lembab di depanku. Air mataku masih mengalir, dadaku sesak. Ingin aku menangis sekeras-kerasnya tapi itu tidak berguna lagi sekarang. Aku yang salah, aku yang egois. Aku yang telah membuatnya menderita seperti ini.
“Byung-ah, mianhae,” Aku kembali mengucapkan kata-kata itu. Aku merasa bersalah padanya.
Seseorang menepuk pundakku. “Kau Kyuhyun?” tanyanya.  Dia adalah namja dokter itu. Aku menggangguk pelan.
“Mianhae,” ucapnya. “Aku sudah berjanji untuk menyembuhkannya tapi nyatanya aku gagal.” Dia menatap ke arahku dengan tatapan  menyesal. Menyembuhkan? Apa maksudnya?
“Seperti yang kuduga ia tak akan memberitahukanmu tentang penyakitnya,” jelasnya. Kemudian ia tersenyum.
“Aku park Jungsoo,” ujarnya seraya mengulurkan tangan dan ku balas setelah itu ia berlalu dan segera ku kejar dia.
“Apa maksudmu? Hyunbyung sakit? Dia sakit apa?” desakku. Dia menghela nafas berat.
“Ulkus kornea,” jawabnya.

***

            Kenapa kau begitu bodoh Hyunbyung-ah? Kenapa aku bisa mengenal gadis bodoh sepertimu? Dan aku?. Aku terlihat seperti oaring yang paling jahat di dunia. Aku adalah orang yang paling melindunginya tapi kenapa aku juga orang yang paling banyak menyakitinya.
“Kau bangsat Cho Kyuhyun!” hatiku terus meneriakkan kalimat itu. Bagaimana bisa aku membiarkannya menahan sakit sendiri. Aku terus menyesali perbuatanku. Harusnya ku dengar dulu penjelasannya.
            Ku putar knop kamar apartemennya. Wanginya masih tertinggal di kamar ini. Air mataku kembali menetes dengan sempurna. Aku berjalan menuju meja belajarnya yang dindingnya dipenuhi oleh fotoku.sejak kapan ia menempel ini semua? Dimejanya juga terdapat foto kedua orang tuanya, aku bahkan merasa bersalah pada mereka berdua karena tidak bisa menjaga putrid mereka seperti yang mereka amanahkan.
“Jeo… jeosonghamnida ahjumma, ahjussi” pintaku seraya menunduk dalam-dalam. Mataku mulai nanar.
            Mataku beralih pada buku hitam yang ada pada sampulnya ditempelkan fotoku dan foto kedua orang tuanya. Perlahan kubuka buku itu. Di halaman pertama terdapat foto kami berdua saat masih senior high school. Di setiap foto tersebut ada catatan kecil tentang kapan foto itu diambil. Aku terus membukanya sambil menangis. Shim Hyunbyung, jeongmal mianhe… kau gadis yang ku anggap lemah, tapi aku salah. Kau adalah gadis yang paling kuat dan tegar yang pernah ku kenal. Mianhe… jeongmal mianhe…
-Kyuhyun POV end-

***

            Eomma… appa… apa kalian tau?aku ingin mati sekarang juga saat mengetahui tentang penyakit yang kuderita. Aku sangat takut. Aku takut terjebak di dalam kegelapan. Eomma…. Apa Kyuhyun masih mau menjadi cahayaku? Dia satu-satunya harapanku… aku akan berjuang untuk sembuh jika memang dia mau menyemangatiku.

***

            Dia menyakitiku eomma…
Aku takut melihat wajahnya saat  marah. Apa eomma bisa memberitahukan dimana letak keslaahanku? Kenapa tiba-tiba dia membenciku?
Rasanya sakit sekali… dia jahat eomma…

***

You wear the sheos I gave you and walk along
The street with her
As if were nothing, you kiss her
You spray the cologne I gave you and embrace her
You’ll probably repeat those promises you made to me with her

It seems that we’re already
Too late
Has our love already ended
Please at least say anything to me
We truly loved each other, can’t we turn back?
I’m the only one hurting tonight

Have you changed? Am I no longer in your heart now?
When I, I think about you
It hurts, hurts, hurts so much
You loo at my tears as if we nothing
You continue to talk calmly again
You told me cruely that couldn’t deny
That you had absolutely no attachment or regrets

Are we already too late? Is our love off?
Even if it’s a lie, please tell me it isn’t so
I can do better now, though we can’t meet again
I’m the only one in pain tonight

You’re no longer your old self because the you I loved
And then you now are so different
Are you that shocked?
I just stood and cried
Watching you become further away
No way, I can’t recognize. You’re not mine anymore

***

            Kegelapan itu mulai datang eomma… tapi cahayaku telah padam. Aku benar-benar sendiri. Setiap malam kuhabiskan waktu untuk menatap wajahnya. Kurasa aku mulai gila, aku sangat takut tak bisa melihat wajahnya lagi.

***

            Eomma… appa..
Entah kenapa hari ini aku merasa sangat merindukan kalian. Aku ingin bertemu kalian. Tadi malam aku bermimpi. Mimpiku persis sama saat ulang tahunku yang ke 14 saat eomma dan appa mengajakku berlibur ke Macau. Aah.. aku bahkan masih merasakan ciuman hangat kalian di pipiku.
Eomma… appa…
Boleh aku ke tempat kalian? Aku tidak bisa lagi menahan rasa rinduku. Aku ingin bahagia bersama kalian.
Kyuhyun-ah, maaf aku telah merepotkanmu. Nan neomu neomu saranghae…
(Hyunbyung’s diary)

THE END~

Read More

Your Sad Eyes

  No comments
17:35:00

Your sad Eyes 


Title: Your sad eyes 
Author : 
Cast: Cho Kyuhyun, Young Eun (as YOU), Lee Donghae

Note: entah kenapa, mimin pengen bikin Kyuhyun jadi namja galau saat ini... Ingin melihat Kyu dengan jiwa berbeda... No evil :D 
satu lagi, kalau ada backsoundnya, skalian di putar ya, biar sdihnya makin kerasa.... 
Happy reading 

[OPENING BACKSOUND: JUST ONCE - KYUHYUN Super Junior] 

**Can I love you? 

I have something I want to say 
But my lips are heavy and my heart has words 
that it couldn’t say even once 


Aku masih ingat... Aku melihatmu duduk di tepi pantai itu. Pagi itu... Duduk dengan lepas, dengan tangan menyangga badanmu. Kau menatap deburan ombak yang sesekali menghempas kakimu. Aku menarik napas panjang sambil tersenyum. Setiap pagi kau selalu melakukan hal itu. Menghampiri pantai sendirian. Menunggu matahari terbit, dan tersenyum. Sorot matamu bisa menceritakan bagaimana isi hatimu. Ya, matamu mengatakan kalau hatimu sangat ceria. 


“Oppa, oppa tahu, ombak itu dingin, sejuk. Kakiku seperti digelitik saat ombak itu menyentuh telapak kakiku...” sahutmu saat aku menghampirimu yang sedang menikmati deburan ombak. 
“Jinjja?” 
“Hmm...” kau mengangguk penuh semangat. “Mau mencobanya?. Ombak pagi sangat sejuk...” kau menepuk tempat kosong di sisi kirimu, mempersilahkanku untuk mengikutimu. Dengan senang hati aku menuruti. 
“Yak, lepas saja alas kakimu, oppa... -_-” ucapmu sambil kemudian menarik kedua sandalku. Ya, pagi itu akhirnya aku merasakan debur ombak yang kau banggakan itu. Kita bercanda sambil sesekali mengamati burung yang berseliweran. 
Aku selalu mengingat jelas bagaimana kau tertawa, bagaimana kau bercerita, bagaimana kau kesal, semuanya. Kau adalah yeoja yang bisa menenangkanku hanya dengan 1 senyuman. Kau adalah yeoja yang menghiasi hatiku. Ya, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu... 


***Your hand, on my hair 
Because I can’t forget it 
I need to drown my pained hurt in your familiarity again 


“Oppa, aku ada kabar gembira!!!” kau menghampiriku dengan wajah berbinar-binar. 
“Apa itu? Ayo, ceritakan padaku...!!” 
“Hmm... Tapi oppa janji, harus memberiku selamat, arrasseo?” 
“Ne...” ucapku sambil menunjukkan tanda V dengan kedua jariku. 
“Oppa, aku telah mendapatkan sesuatu yang selama ini kuinginkan!!! Kyaaa....” kau histeris lagi sambil memegang kedua pipimu, membuatku tertawa karena terpesona dengan semburat merah di pipimu, yang menggambarkan kalau hatimu meledak-ledak. Aku sangat penasaran.... 
“Yaissh... Segera katakan, jangan berbelit-belit... Membuatku penasaran saja...” ucapku sambil mencubit pipi kirimu. 
“Aku.... Anni anni.. Maksudku... Donghae oppa! Dia.... dia mengutarakan perasaannya padaku! Oppa, dia ternyata mencintaiku! Dia memintaku menjadi yeojachingunya.... Omona....Aku bahagia sekali oppa... Dia yang kucintai ternyata mencintaiku juga... Aku senang sekali, oppa...!!” matamu terlihat semakin berbinar saat menyebut nama Donghae. 
“Jinjjayo? Berarti, sekarang kau sudah punya namjachingu?” 
“Ne... Dan orang itu adalah orang yang sudah lama kuharapkan... Kyaa... Rasanya seperti mimpi....!!!” kau tertawa senang saat menyampaikan itu padaku. 
“Memangnya sudah berapa lama kau menyukainya?” 
“Sejak kau mengenalkannya padaku... 3 tahun lalu...” kau masih tersenyum dan pipimu memerah lagi. 
“Yakk, kenapa kau tidak pernah cerita padaku kalau kau menyukai dia sejak dulu?!!” ucapku dengan nada pura-pura marah. 
“Habisnya, aku takut oppa menceritakannya pada Donghae oppa. Aku kan malu, oppa. Aku tahu sifatmu yang suka bicara ceplas ceplos, jadi aku tidak mau cerita padamu. Hahahaha....” kau tertawa dan mengusap rambutku. 
“Oppa, tepati janjimu! Berikan aku ucapan selamat!” sahutmu sambil menepuk bahuku. 
“Ya, baiklah, karena aku namja bertipe tanggung jawab dan terpercaya, aku pasti menepati janjiku. Chukkae, Young Eun ah... Chukkae karena sudah mendapatkan hati Donghae hyung ^^ “ ucapku sambil menyodorkan setangkai bunga liar yang baru saja kupetik di dekat tempatku duduk. 
“Hahaha... Gomawoyo, oppa... Kau benar-benar oppa terbaik...” lagi, kau mengusap rambutku, membuat rasa nyeri hingga ke lubuk hatiku. 


***The moment your hand touched me 
I started to be stained 


Kau tersenyum.. Namun saat ini beda. Melihatmu tersenyum membuatku sakit. Aku... Aku mencintaimu tapi aku sadar tidak bisa memilikimu... Setiap hari kau terlihat bersemangat. Aku mengikutimu kemanapun kau pergi. Bahkan setiap sore, aku selalu melihatmu dan dia. Kalian menghabiskan waktu berdua di pantai itu. Sekarang posisiku sudah digantikan olehnya. Aku yang biasanya datang menghampirimu di pantai kini tidak memiliki keberanian. Aku hanya bisa disini. Berdiri di kejauhan sambil melihat wajahmu diam-diam, tanpa berani datang ke dekatmu. Aku tidak berani ke pantai itu... Aku tidak berani menemuimu lagi di pantai itu... Karena aku tahu, jika aku menemuimu disana, itu hanya akan menambah kepedihanku. 


Dia beruntung bisa mendapatkan hatimu. Dia sangat beruntung. Tidak sepertiku, yang sebenarnya sudah lebih lama mengharapkanmu, namun kau tidak menganggapku lebih. Hanya sebatas oppa. Aku ingin mendapatkan senyum darimu seperti ia mendapatkan senyummu. Aku ingin mendapatkan cinta darimu seperti dia mendapatkan cintamu. Aku ingin seperti dia... Tapi, aku adalah Cho Kyuhyun... Orang yang hanya menjadi seorang kakak dimatamu... 


***Love is like the pink flower petal staining the tip of your nail 
That I live inside of you 
That I’m changing for you 
Now, forsaking everything and, Stained 


Semakin hari kita jarang bertemu. Kau hanya menjalani harimu dengannya. Apa kau lupa padaku? Mungkin, kau sudah lupa padaku. Tapi aku tidak pernah lupa padamu. Aku disini, didekatmu. Aku disini menatapmu dari kejauhan... Aku tidak pernah meninggalkanmu, kau tahu. Aku akan tetap ada disini, berjaga-jaga jika semisalnya dia menyakitimu, aku akan langsung datang dan melindungimu. 

Aku tahu pasti seberapa besar rasa sayangmu padanya. Kau tidak bisa menutupi itu dari matamu. Dua tahun kau terlihat sangat ceria, 2 tahun pula aku bergelut dengan tekanan batinku. Aku...sudah berusaha, tapi aku tidak bisa sedikitpun melupakanmu. Aku tidak pernah bisa menghapus perasaan ini, aku sudah berusaha. Tapi maaf... Aku tetap tidak bisa. Aku masih berharap semoga ada kesempatan untukku... 

Sampai saat itu datang. Dia harus meninggalkanmu. Bukan, bukan memutuskanmu, melainkan meninggalkanmu hanya sementara. Ia harus pergi ke Jepang untuk menjenguk appanya yang sedang sakit. 


“Berapa lama oppa pergi?” tanyamu dengan nada sedih. 
“Ah, hanya seminggu, chagi. Aku menjenguk sekalian ingin menjemput appa. Karena seminggu lagi, ia sudah diperbolehkan untuk kembali ke Seoul. Kondisinya sudah mendingan...” 
“Donghae ssi, titip salam pada ahjussi. Aku rindu padanya. Sudah lama kami tidak tanding game.” Sahutku kearah Donghae hyung. Ya, dia jauh lebih tua dariku tapi aku tidak pernah memanggilnya hyung karena aku memang tidak suka memanggil orang lain dengan sebutan hyung. :D 
“Tentu saja...” sahut Donghae ke arahku. 
“Oppa, berjanjilah untuk pulang tepat waktu. Aku tidak mau kau lama-lama jauh dariku...” sahutmu sambil menunduk. Ekspresi itu, andai ekspresi itu untukku... 
“Tenang saja chagi... Oppa janji akan pulang tepat waktu, oppa juga tidak ingin lama-lama jauh darimu. Rasanya seperti makan kimchi tanpa rasa pedas, hambar...” 
“Yak, kau ini seenaknya menyamakanku dengan kimchi.” Kau menepuk dadanya pelan, membuat Donghae tertawa kecil. Kalian benar-benar saling mencintai, terlihat jelas bahwa tidak ada celah untukku. 
“Jadi, kapan oppa akan berangkat?” 
“Besok, chagi...” 
“Mwo? Besok? Tepat di hari ulang tahunku?” 
“Mianhae...” 
“Yah... Berarti ulangtahunku kali ini tidak seru... Tidak ada oppa yang mendampingiku...” 
“Mianhae chagi... Oppa harus begini karena appa yang meminta... Kau jangan kecewa seperti itu, chagi.. Kau membuatku sedih. Jadi tersenyumlah. Aku kan hanya sekali ini tidak ikut merayakan ulangtahunmu di seoul... Tapi kan tahun depan dan tahun seterusnya masih ada waktu...” dia menyentuh kedua pipimu, mencoba membuatmu tenang. Kau masih terlihat sangat kecewa. Aku bisa merasakan itu. Aku mengenalmu, jauh lebih mengenalmu dibandingkan dia mengenalmu. 
“Chagiya... Jangan bersedih ne...” dia mengangkat wajahmu dengan kedua tangannya. “Meski aku tidak bersamamu besok, aku akan ikut merayakan ulangtahunmu dari pesawat..” dia mencoba menghiburmu lagi. 
“Aku pasti pulang tepat waktu...” ucapnya menatapmu kemudian mendekatkan wajahnya ke arahmu dan mengecup keningmu lembut. Aku memalingkan wajahku. 


***Stained, I’m stained inside your love 
Stained, with your love that I can’t escape 
While forsaking everything that is me 
Inside your ever-growing love, I am now 


~Esoknya... 

Kau dan aku mengantarnya ke bandara, pagi ini seharusnya kau masuk kuliah, namun kau bolos demi ikut mengantarnya. 
“Omo... Lain kali jangan begini chagi. Jangan korbankan kuliahmu hanya demi mengantarku... Arra?” dia mengusap pipimu. 
“Anni. Aku akan melakukan ini setiap oppa mau pergi..” ucapmu lagi dan membuatnya tersenyum. 
“Hmm, baiklah, terserah tuan putri saja..” sahutnya sambil menyodorkan sebuah kotak kecil. 
“Ige mwoya?” 
“Aku tahu kau akan menyusulku ke bandara, jadi aku menyiapkan ini. Pakailah, jadi selama seminggu kau merindukanku, tatap saja kalung ini, maka rindumu akan terobati...” dia kemudian mengaitkan kalung itu di lehermu. Sempurna. Kau makin cantik dengan kalung itu. Aku tersenyum miris, andai aku bisa memberikan hal yang sama padamu... Aku miris... Hanya bisa menonton kemesraan kalian... 
“Baiklah, oppa pergi dulu ne... Kyuhyun ah, aku pergi dulu. Kalian baik-baik disini. Dan kau cho Kyuhyun, jaga chagiyaku ya... Tapi jangan macam-macam, arra. Jangan mencuri hatinya. Karena hatinya sangat berharga...” ia tertawa kearahku dan kubalas dengan senyuman. 
“Hati-hati juga, Donghae ssi. Baik-baiklah di Jepang, jangan menyempatkan diri melirik yeoja lain...” ucapku. Kau tersenyum, seakan bahagia mendengar ucapanku, seakan mengiyakan pernyataanku. Aku cemburu. 
“Ne... Chagiya, sangeil chukkae... :-)” 



Aku pulang ke rumah, setelah sebelumnya mengajakmu makan siang di tempat kesukaanmu dan kemudian mengantarmu pulang. Jarak rumahmu tidak jauh, hanya berselang 2 rumah dari rumahku, karena itu kita sejak dulu selalu dekat. Hari ini mendung, aku memutuskan untuk bersantai di ruang tengah sambil menonton tv. Wae? Karena psp ku rusak. 


“Kami melaporkan bahwa baru saja terjadi kecelakaan pesawat dengan nomor penerbangan T303 penerbangan dari seoul menuju tokyo. Menurut laporan yang kami dapatkan, operator kehilangan komunikasi dengan awak pesawat di menit ke 20 pasca take off, dan di duga pesawat tersebut jatuh karena pesawat bernomor T303 itu dikenal sebagai pesawat yang sudah tua dan baru mengalami masalah di bagian mesin. Perkembangan selanjutnya akan kami laporkan sesaat lagi...” 


Aku menjatuhkan remote tv tanpa sengaja setelah menyaksikan berita itu. Aku tersentak. Bukankah,, bukankah itu pesawat Donghae? T303... Andwe, tidak mungkin. Young eun...! Apa kau... Aku segera bangkit dan bergegas pergi. 




~~Kemudian 

“Baru saja Young eun pergi tergesa-gesa. Dia bilang ingin ke bandara untuk memastikan apa berita tadi benar atau tidak. Dia juga melihat berita itu. Ahjumma juga... Tapi ahjumma tidak menyangka kalau itu pesawat yang dinaiki Donghae...” aku segera pamit setelah mendengar ucapan ahjumma. Aku harus menyusulmu. Aku tahu kau pasti ingin melakukan hal yang tidak-tidak. 


@Bandara 

“Katakan kalau berita itu tidak benar! Kau, ahgassi!! Segera katakan kepada seluruh stasiun televisi kalau berita tadi hanya tipuan! Katakan kalau berita itu salah!!” aku melihatmu memaki beberapa petugas wanita di bandara itu. Mereka berusaha menenangkanmu tapi kau semakin marah. Aku segera berlari menghampirimu. 
“Jangan salahkan mereka, mereka tidak tahu apa-apa, Young eun...” aku mencoba menenangkanmu yang masih berontak. Tenagamu kuat sekali sampai bisa melepaskan genggamanku. 
“Ahjussi, cepat katakan kalau pesawat itu baik-baik saja! Pesawat Donghae oppa tidak jatuh! Pesawat itu tidak rusak! Pesawat itu baik-baiki saja, kalian tahu!” kau makin keras membentak para pegawai yang ada disana. Aku segera menarikmu setelah sebelumnya membungkuk ke arah mereka mencoba meminta maaf atas apa yang baru saja terjadi. 


Kau memintaku untuk mengantarmu langsung ke rumah. Aku menurutimu dan sesampainya di rumahmu kau langsung pergi kedalam dengan wajah penuh air mata. Mata itu benar-benar sedih. Young eun ah, jabal jangan menangis... 



***Engraved by the fingertips, as the wound that grazed my neck 
Lingering inside my heart, now with you I am 


Aku mengetuk pintu kamarmu namun kau tidak membukanya. 
“Ahjumma menyerah, Kyuhyun ah... Sudah hampir seminggu Young eun begini. Ahjumma tidak tahu harus bagaimana lagi supaya membuatnya tidak bersedih...” kulihat wajah sedih dari ahjumma. Aku terus mengetuk pintumu namun kau tidak membukanya. Aku menyerah dan pulang... 


~~Keesokan harinya... 

Tidak sengaja aku melihatmu pergi keluar rumah. Akhirnya kau muncul juga. Aku merindukanmu... sangat rindu. Aku ingin memelukmu, memberi kekuatan di tengah kesedihanmu. Kulihat pagi ini kau berjalan gontai sendirian. Sepertinya ingin ke pantai. Aku terus mengikutimu dan mengawasimu dari kejauhan, takut-takut kau bertindak yang aneh-aneh. 

Aku ingat jelas, di pantai itu kau berbeda. Kau berdiri sendirian, menatap lurus ke air. Kau hanya mematung seakan berkutat dengan pikiranmu sendiri. Aku tidak sanggup melihatmu begitu. Kulihat sesekali kau menyeka air matamu dengan punggung tanganmu. Benar-benar sakit... 



“Donghae oppa! Lee Donghae! Kau menipuku! Kau bilang kau akan pulang tepat waktu! Ini sudah seminggu! Kenapa kau belum datang!” aku mendengar kau berteriak di pinggir laut yang sepi. Ya... Masih sepi. Ini masih pukul 6 pagi. Kau menjerit sambil mengeluarkan tangisan kepedihanmu. Aku bisa rasakan, betapa perasaanmu saat ini sangat hancur. Jangan menangis... 

“Aku tidak butuh kalung ini! Yang kubutuhkan hanya oppa! Jebal kembali...!! Donghae ya! Tepati janjimu!!” kau berteriak sambil menangis... Lagi... Kau kemudian bersujud di hamparan pasir dan menangis sejadi-jadinya. Ku akui, aku tidak suka dan cemburu saat tahu kau berpacaran dengan Donghae. Tapi bagiku, lebih baik aku melihatmu berpacaran dengan Donghae dan selalu tersenyum cerah daripada harus melihatmu menangis seperti ini karena kehilangannya. Aku tidak kuat melihatmu begitu... 

“Young eun.... Sudah... Jangan menangis lagi...” aku menyentuh bahumu, memberanikan diri untuk menghiburmu. Ya, aku menghampirimu hanya untuk menghiburmu... Berharap bisa membuatmu lebih baik, namun kau masih menangis. 
“Oppa tidak mengerti perasanku, jadi tinggalkan aku sendiri!” kau menepis tanganku, seolah-olah aku telah menjahatimu. 
“Young eun ah... Aku mengerti perasaanmu.. Tapi bagaimanapun juga, Donghae tidak akan kembali lagi... Jangan begini... Dia tidak akan bisa tenang disana jika kau masih menangisinya berlarut-larut.” Aku masih berdiri di belakangmu. 
“Masih ada aku disini... Aku akan menggantikan Donghae untukmu. Aku akan menjagamu dan menyenangkanmu, kau tidak usah khawatir...” 
“Andwe! Tidak ada yang bisa menggantikan Donghae! Tidak ada yang seperti Donghae di dunia ini! Sekarang tinggalkan aku sendiri dan jangan temui aku!” 
“Young eun...” 
“Tinggalkan aku sendiri!” kau berteriak dan masih tetap menangis sambil menatap lurus ke tengah laut. Aku menyerah... Aku pergi dan membiarkanmu di pantai itu sendiri... Tapi aku tidak benar-benar pergi. Aku tetap di pantai ini, namun di tempat lain, mengamatimu dan mengawasimu... 



Sejak saat itu kau berubah... Sorot mata sedihmu selalu menemanimu... Setiap pagi kau selalu melakukn hal yang sama, pergi ke pantai. Namun bukan untuk menikmati deburan ombak yang biasanya kau banggakan itu, tapi untuk menangis. Ya, kau tetap menangis. Bahkan sudah berbulan-bulan sejak kepergiannya... Tidakkah kau tahu, aku lebih sakit melihatmu begitu... Aku merindukan senyummu yang dulu. Senyum hangat yang tulus. Kini kau hanya menatap kosong, seakan tidak ingin hidup... Kau rapuh, aku tahu itu... 



Aku ingin bisa menggantikan Donghae di hatimu, tapi... Sepertinya tidak ada tempat sedikitpun untukku dihatimu. Ya, kau hanya milik Donghae. Bahkan sampai akhirpun aku tidak bisa mendapatkan hatimu, berada disampingmu seperti Donghae... Kau tahu, aku tetap disini, mengawasimu... Meski aku tahu aku tidak akan pernah bisa menggantikan dia. Dia yang kau cintai.. Namun aku akan tetap begini.. Aku akan tetap disini, dan tetap mencintaimu... Aku mencintaimu...Sangat mencintaimu... 


**Can I crazily call out your name just once? 
Because of my heart, I want to go closer to your side 

In order to tell you, I want to go closer to your side 
I love you, the person who I miss 


END 

Read More